Kata “ujian” sepertinya berkerabat dekat dengan “Sesuatu yang tidak menyenangkan dan menggelisahkan”. Tapi kata siapa selalu begitu? Nah, pada kesempatan ini, saya akan berkisah tentang travel penuh ujian dan tantangan yang pada akhirnya menawarkan banyak pelajaran dan juga persahabatan (terjalin hingga kini) yang saya dan Elhalwa, teman saya alami pada awal tahun 2012 lalu.
Jika diingat, memang tak mudah bagi kami mempersiapkan perjalanan tersebut, mulai dari bagaimana menabung dan mengumpulkan uang, hingga sengaja membawa bekal sedikit nasi beserta sambal teri dan kacang tanah selama perjalanan. Selain memang enak, itulah secuil cara terkeren menghemat uang saat bepergian versi kami. Dari jauh-jauh hari kami telah membayangkan perjalanan itu pasti menyenangkan terlebih karena menggunakan transportasi darat yang memungkinkan kami untuk leluasa menikmati perjalanan saat melintasi setiap kota yang dilewati. Kata teman saya, jika masih seputar Sumatera-Jawa saja serba naik pesawat, travelling nya bakal tak mabrur, tak afdhol, katanya.
Maka dengan bekal semangat membara itu, perjalanan kami dari tugu perbatasan antara provinsi Jambi-Palembang (kami berangkat dari rumah teman saya) untuk menelusuri pulau Jawa pun di mulai. Tujuan awal kami adalah jawa Timur; Pare (kampung inggris), bromo dan gunung Kelud, agenda berikutnya barulah Jawa Tengah yang juga tak kalah penting untuk dijelajahi.
Namun apa yang terjadi? Penjelajahan itu diawali oleh hal kurang menyenangkan. Terjadi kesalahan komunikasi dengan pihak travel yang kami tumpangi. Berujung, bus tersebut harus putar arah (mundur) untuk menjemput kami kembali (terlewat) hingga membuat semua penumpang menyumpahi kami selama perjalanan kurang lebih 3 hari 2 malam Sumatera-Jawa. Menurut versi kami, kesalahan tentu bukan dari pihak kami yang sudah dengan sangat jelas menyebutkan alamat rumah teman saya di perbatasan Jambi-Palembang itu. Namun sang sopir bersikeras hingga membentak, pun begitu para penumpang, di sepanjang perjalanan ada saja yang nyeletuk, menyindir, bahkan meneriaki kami sebagai sebab keterlambatan yang jika diperkirakan hanya sekitar 15 menit saja. Tak ada yang bisa di ajak bicara dengan baik selama perjalanan. Boleh dikatakan kami "tak memiliki teman" saat pergi, bahkan ketika berpamit untuk shalat dikala bus berhenti di beberapa rumah makan saja, semuanya tampak sinis dan marah. Namun bagian yang paling tak terlupakan dari semua itu adalah saat saya sempat mengalami demam selama perjalanan. Belum lagi saat tiba di Jawa Timur, saya hampir menyerah karena untuk sampai ke kota Kediri saja ternyata kami harus naik angkutan umum hingga beberapa kali, termasuk berjalan kaki sampai berkilo meter di bawah terik matahari siang sambil menenteng barang bawaan dan menyeret satu buah koper. kenapa koper? karena ketika itu, selain ingin membolang alam, kami juga ingin membolang ilmu pengetahuan di Pare(kampung inggris) barang beberapa minggu saja. Melelahkan, terlebih saya dalam keadaan demam, kaki lecet dan kondisi mental yang kurang baik pula kala itu.
Hei, bukan perjalanan namanya jika tidak terselip pelajaran. Pun, di sinilah hebatnya perjuangan. Saat mengijakkan kaki di Pare, satu persatu kesulitan itu tergantikan oleh keseruan teman-teman baru dari berbagai daerah yang dijumpai di sana, serta petualangan traveleling tak terduga bersama mereka ke gunung Bromo, ke gumul, serta tempat wisata lainnya seperti BNS (Batu Night Spectacular) di Batu, Malang. Akhirnya, dari pengalaman ini saya baru sadar benar, bahwa untuk menjemput sesuatu yang indah itu memang butuh perjuangan dan kesabaran tak biasa. Entah itu keindahan pemandangan, keindahan ilmu pengetahuan, keindahan persahabatan, dsb. Satu yang pasti, rintangan mengajarkan segalanya. Inilah makna sebuah perjalanan, kami mungkin tak berteman saat pergi, namun memiliki oleh-oleh pelajaran dan persahabatan saat pulang.
Memburu sunset ke Bromo (waktu dini hari)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar