Rabu, 14 Februari 2018

SERIBU KISAH BLOGGER SYAR’I YANG TETAP COOL DALAM SEBUAH “WAWANCARA KEHIDUPAN”


                                                    gambar: alwi96.blogspot.com

SERIBU KISAH BLOGGER SYAR’I YANG TETAP COOL DALAM SEBUAH 
“WAWANCARA KEHIDUPAN” 

      “Kamu tak pernah pacaran ya sampai sekarang?” seorang teman lamaku baru-baru ini bertanya. Kami bertemu saat sama-sama menghadiri pernikahan tetangga di kampungku. Sudah lama tak bertemu, jadi mungkin naluri “kewartawanan” nya meluap begitu melihat ku yang memang jarang pulang kampung sejak merantau pada 2007 silam. Jadilah hari itu aku diwawamcarai dengan spontan. Sebelum panjang dan lebar bertutur tentang isi wawancara tersebut, izinkan aku memperkenalkan diri terlebih dahulu.
      Assalamu’alaikum, namaku Muna, Munawaroh lengkapnya. Selain membaca dan belajar menulis, menghias kue (ulang tahun dan pernikahan) adalah salah satu hal paling menyenangkan bagiku, hingga di tanah rantau ini, selain aktifitas mengajar di sekolah, Alhamdulillah aku telah membuka usaha di bidang itu. Aku bersyukur bisa melakukan dan belajar banyak hal dalam hidupku, meski ada satu hal yang masih aku tunggu hingga saat ini, yaitu datangnya belahan jiwa, singkatnya di usia 28 tahun ini, aku belum menikah. Melajang di usia itu, aku menjadi perbincangan dan pusat pertanyaan orang-orang di kampungku sana, yang mana wanita seusia itu seharusnya sudah lama berumah tangga. Usia 25 tahun ke atas dan belum menikah, itu sudah seperti aib besar di kampungku. Dahulu aku sering protes dan marah, dalam hati bertanya, “Kenapa aku yang belum menikah ini menjadi pergunjingan yang jahat, seperti aku melakukan sebuah dosa sebesar zina? Kenapa justru perbuatan yang suka ‘mojok’ di semak-semak dianggap tidak terjadi apa-apa? Kenapa aku dan aku yang salah?” Astagfirullah, begitulah aku dahulu, sebelum mendekat pada-Nya. Aku tak introspeksi dan tak berdamai.
      
      Perkaraku mungkin begini!

                                                         gambar: hidayatullah.com
       
      Walau terlihat pemberani dan riang, tapi sebetulnya aku sangat pemalu. Aku memang tidak pernah berpacaran hingga saat ini usiaku hampir 29 tahun, walau dulu saat remaja teman lelaki berusaha mendekati. Bukan, bukan karena aku wanita paling alim atau mengerti sekali agama, bukan! Bahkan dulu ketika masih SMA hingga kuliahpun aku masih buka-tutup hijab, aku belum menjalankan kewajiban dari Allah dengan sepenuh hati. Berhijab pun masih karena sebuah “disiplin” dari ibuku, hanya karena takut ibu kecewa, itu saja. Namun tidak pernah berpacaran, tidak ada hubungannya dengan semua itu. kuakui bukan karena patuh pada Allah, melainkan karena sifat pemaluku yang juga hanya mampu memendam perasaan bertahun-tahun terhadap seorang yang menarik perhatianku. Namun saat ini, aku hanya tersenyum manis saat orang atau temanku melempar tanya tentang, “kenapa aku tidak pernah pacaran,” 
      Seperti judul tulisan ini, yaitu, WAWANCARA, maka inilah beberapa isi wawancara antara aku dan temanku pada hari itu. Ini contoh wawancara santai namun ku usahakan berjalan sekeren mungkin, tanpa marah, tanpa menggurui, tanpa ribut seperti yang dulu-dulu.
      “Sebanyak apa kamu bahagia tanpa pasangan, Mun?” 
      “Sebanyak rasa terima kasihku pada keberadaan, pada kehidupan, dan pada Allah, kawan” Kataku.
      Sambil tertawa, dengan gigih, temanku kembali bertanya, “Sebanyak apa memangnya? Termasukkah ‘kesendirian’ bisa mengurangi jumlahnya?”
      Oke, dia hanya bercanda, “Saya tidak sendiri, kawan!” kataku makin sok keren. 
      “Kamu tidak ingin bahagia dengan cara berkeluarga, Mun? Anakku sudah gadis pula, Mun! Kapan lagi? Kamu terlalu pilih-pilih, mungkin?”
      Aku pura-pura ngakak sembari memikirkan jawaban terenak, ter-cool dan paling ampuh yang bisa ku  kerahkan hingga inilah paparanku yang sedikit serius kala itu.
      “Manusia normal mana yang tidak mau menikah, kawan? Punya anak, bayi-bayi bulat yang lucu, kalau kau punya Rahim, kau pasti mengingikannya. Jika pun masalahnya adalah memilih, maka ku katakan bahwa memilih itu harus, terutama berhati-hati, karena aku harus pastikan menikah dengan seorang lelaki betulan, bukankah banyak sekali kasus seorang wanita menikah dengan seorang lelaki kekar yang ternyata juga wanita? Ini terdengar remeh namun serinci itulah pernikahan bagiku” aku tersenyum.
      “Terlalu memilih? Tidak! Karena diri ini pun tak sempurna, jadi kata TERLALU itu BUKAN brand ku  atau merek yang sesuai bagiku“ 
      “Kamu tahu kawan? Ada beberapa hal yang tak selalu berani ku katakan pada semua orang yang bertanya, karena aku takut jawabanku akan menjadi sebuah kesombongan di mata Allah, aku sadar pengetauan agamaku bahkan mungkin belum secuil dari luasnya samudera ilmu. Namun, karena kita jarang bertemu, tak ada salahnya kita bertukar cerita” tuturku bersiap-siap.. 
      “Mungkin Poinnya begini, kawan!”

                                                             gambar: akuislam.id

      “Pertama, hidupku ini murni urusan Allah yang oleh aku sendiri pun tak bisa ku campuri kecuali dengan ikhtiar dan do’a. Lalu menurutmu apa orang lain mampu mengurusinya?”
      “Kedua, sebetapapun lingkungan menganggap bahwa ‘belum menikah’ itu menjadi hal ‘pengurang’ dalam kualitas kebahagiaan, aku tidak akan sependapat, kawan. Kenapa? Karena space ‘belum menikah’ itu, Alhamdulillah ku jadikan tempat untuk belajar banyak hal baru, menjadikannya ‘ruang kelas’ untuk memahami bahwa ‘Manusia, membuang sampah pada tempatnya’, ‘menguasai teknik memasak dadar satu butir telur puyuh, bisa lebih lebar dari wajannya, ‘memahami bahwa makan berdiri, dengan tangan kiri pula, itu adalah adab buruk sekali’, atau paling tidak, tahu bahwa ‘Nun Sukun/Tanwin bertemu huruf Lam dan Ra’, itu bukan LaRa makan Sukun, tetapi Idghom Bilanghunnah. Mungkin tak menggungah bagi orang lain, sepele, kecil. Tapi kecilnya itulah yang  menjadi indah bagiku karena aku menikmatinya sebagai ruang mempelajari hal-hal yang bisa dan harus dipelajari. ‘takdir jodoh?’ bukan terkaanku”
      “Ketiga, terkait isu pernikahan yang sering dihubungkan dengan harga diri seseorang dan grafik kebahagiaan yang ia miliki, maka harusku jawab dengan beberapa pertanyaan balik; satu, kamu pernah melihat orang, saudara, atau tetangga  yang sudah menikah, keluarganya lengkap, memiliki anak-anak lucu mempesona, berUANG pula, tapi malah sibuk mengeluh disepanjang bangku warung dan tempian? Mengeja kekurangan pasangannya di semua akun media social? Memaki anaknya yang nakal, menyalahkan orang lain atas hidupnya, bahkan sampai pada tingkat yang paling mengerikan, yaitu menyalahkan Allah? Pernah lihat? Aku pernah. Dan menurutku, itu adalah salah satu ciri orang yang kurang bahagia. Karena kalau dia benar-benar bahagia, dia akan ‘menterimakasihi’ kehidupannya, bagaimanapun keadaannya.”
      “Keempat, aku tidak hanya pernah ditanyai tentang ‘pernah pacaran’ namun lebih dari itu. Aku bahkan pernah disangka penyuka sesame jenis, tak suka laki-laki, dikatakan sulit mendapatkan jodoh, karena dari dulu aku memang tidak pernah berpacaran sama sekali. Bahkan ada yang menyarankanku untuk melepas hijab terkait masalah jodoh. Kini kusadari bahwa, aku bersyukur karena aku pemalu, karena kalau tidak, mungin entah bagaimana dulu gaya berpacaranku, dan secara tak langsung Allah menjagaku setidaknya dari dosa berpacaran. Aku belum menikah bukan karena aku menutup tubuhku, justru aku belum menikah karena Allah sangat sayang padaku. Dia memberiku waktu untuk belajar banyak hal, memperbaiki diri, menyadari kesalahan, mungkin saja kebaikanku belum pantas bagi jodoh baik yang ku damba, yang telah DIA siapkan untukku. Oleh karenanya, aku harus berjuang untuk menjemputnya dengan jalan sabar dan shalat. Sabar lagi, sabar terus, Allah lagi, Allah terus. Amin. 
                       SELESAI
PENULIS : Susri Yunita             


Tidak ada komentar:

Posting Komentar