Pestival Lemang
ANTARA MEY, LEMANG DAN GARAM
Aku
menikah dengan seorang mafia lemang yang menjengkelkan. Istriku itu bisa
mempermalukan ku empat kali dalam 4 menit saat berada di acara atau pesta adat
di keluarga kami dengan menghabiskan sajian lemang di hadapannya tanpa
menyisakan untuk yang lain.
Dia tak peka, sekuat
apapun aku mencubit betis atau kakinya atau apapun yang bisa di cubit dari tubuh keringnya. Dia
tidak tahu betapa gugupnya aku saat semua mata tertuju padanya. Eh, dia? Santai
saja tanpa rasa apa-apa. Malu? Tidak
ada! Sungkan? Heuh, jauh! Padahal di rumah, dia punya langganan
lemang setiap hari. Setiap pagi,
si unni tukang lemang mengantarkan benda di dalam buluh
itu
ke rumah. Tapi yang aku
heran adalah dia tidak pernah bosan. Karena keanehannya itu,
aku menjulukinya dengan “Hantu Lemang”. Dia bisa menghabiskan 3-5 batang lemang
setiap hari tanpa bosan. Pokoknya,
dia menganggap dirinya itu semacam menteri lemang atau sebangsa duta lemang.
Aku tidak habis pikir, selain lemang, akhir-akhir
ini dia tidak menyukai makanan lain
kecuali tumis Rebung Asam Manis Pedas tanpa garam, bahkan sebesar upilpun tidak
ada garam. Mau tahu siapa
musuh besarnya? Bukan, bukan mendiang ibu tirinya yang mati di santap buaya di
tahun 1999 silam. Jangankan ibu tiri, dia bahkan
menganggap ibu orang lain adalah ibunya, ayah nya tetangga adalah ayahnya juga.
Alih-alih memusuhi orang yang telah mati atau tetangga, kucing tetangga saja
dia anggap keluarganya. Memberi makan, atau memandikan kucing jalanan adalah hal biasa baginya. Kenapa? Karena tak ada hal
yang dihindari
Mey kecuali garam dapur, selain
lemang, rebung
adalah makanan kesukaanya,
itulah fakta tentang Mey. Aku selalu bertanya,
kenapa dia suka sekali hal-hal yang berkaitan dengan
bambu. Lemang, diwadahi dengan bambu, rebung adalah bayinya bambu.
Apa jawabannya saat aku bertanya hal seperti itu?,
“Aku bukan manusia, tapi nenek
moyangnya Panda
yang cinta pada Jillbara”
katanya. Menjengkelkan bukan? Ia memang memiliki kemampuan membuat lelaki keren nan brengsek seperti ku menggila.
Adalah
Mey, Meyana Amira nama lengkapnya. Ia lahir di sebuah dusun bernama Tanjung
Menanti, di sebuah kabupaten yang ada di kota Jambi. Aku sudah mengenalnya
sebagai tetangga sejak kami masih kanak-kanak. Saat kecil, aku sudah tidak suka
pada Mey, aku benci pada Mey. Aku adalah salah satu anak lelaki yang sering
kali membuat Mey menangis karena bersama anak lain aku mengolok ibunya yang
sakit jiwa. Menurut tetua kampung, ibu Mey dulu baik-baik saja sebelum ayahnya
pergi dengan wanita lain di kampung tetangga saat umur Mey baru 5 bulan di
kandungan. Setelah Mey lahir, mereka berpisah dan ibunya semakin hari semakin
aneh dan akhirnya dijuluki sebagi “Unghang gilo elok” di dusun Tanjung. Benar,
saat remaja, ibunya Mey dikatakan mirip artis senior Indonesia Widyawati kala
muda, ia begitu elok, cantik. Ia juga dikenal sangat mahir bersida (menyanyikan syair adat pernikahan) yang tak semua orang
bisa melakukannya. Ibu Mey, adalah orang yang sering dimintai untuk bersida.
“Sulit untuk tidak meneteskan air mata saat ia mulai melantunkan syair yang
mendayu-dayu itu” begitu kata orang-orang.
Namun
sayang, Mey tak bisa melihat itu semua. Ia hanya tahu bahwa ibunya adalah
seseorang yang berkeliaran menari dan menginjak-injak hamparan padi dan pinang
tetangga yang dijemur di sepanjang halaman rumah. Wanita cantik itu sudah
digantikan oleh sosok super kurus dengan wajah runtuh, berjalan sembarang,
tertawa tanpa sebab, menangis seolah-olah ia sedang di sakiti. Yang Mey ketahui
itu adalah ia ditinggalkan ayahnya dan menjadi wali murid bagi ibunya. Mey
adalah ibu dari ibunya sendiri. Ibu yang selalu dilempari dan dihalau orang
karena menganggu. Mey harus mengepel lantai orang lain yang di lempari pasir
oleh ibunya. Membersihkan jendela orang lain karena dicorat-coret dengan tanah
lembek oleh ibunya. Memunguti padi, pinang, jagung, kopi atau apapun yang di
jemur tetangga di halaman rumah mereka. Ada tetangga yang maklum, namun banyak
juga yang kesal, hingga berteriak pada Mey meminta pertanggung jawaban, namun
tanpa diminta Mey memang selalu bertanggung jawab atas itu semua.
Mey
saat bayi dirawat oleh sang nenek, ibu dari ibunya. Namun saat usia 7 Mei dan
ibunya ditinggal mati sang nenek yang menderita gangguan pencernaan. Kematian
nenek Mey adalah mula alih semua kepengurusan di pundak Mey. Saat penyakit wanita itu sedang kambuh parah,
bocah itu sangat kesusahan membawa ibunya pulang. Pernah di
suatu hari yang mulai senja, Mey membujuk ibunya
pulang. Alih-alih mengikutinya,
sang ibu malah melemparnya dengan kuat ke tumpukan jerami di tepi sawah. Tapi ia tak putus asa
dan bangkit kembali mengejar sang ibu, ia memamapah sambil membujuknya dengan berbagai kata rayuan,
“Ayo pulang bu, nanti ku kasih hadiah dan ku kasih cium di rumah. Ayo kita cuci rambutmu” katanya. Apa yang terjadi? Untuk kesekian kalinya ia
terjungkal, terjerembab kedalam
sawah, kekuatannya yang kecil sudah tidak mampu menahan ibunya. Dari dalam
lumpur itu ia menangis melihat punggung ibunya yang kembali pergi semakin jauh.
Mey
memang sering menangis, namun wajahnya selalu tampak sangat ceria. Mey selain cerdas dan
menjadi sainganku di sekolah, juga piawai memasak, ia bahkan sudah bisa memasak tumis Rebung Asam Manis Pedas
di usia 7. Setelah neneknya meninggal, Mey memang dituntut takdir untuk bisa
segalanya. Tugas paling
beratnya ku rasa bukanlah saat ia mencuci berember-ember besar pakaian
kumal ibunya di sungai
Batanghari, bukan saat ia hampir kehilangan nafas mengangkat ember-ember besar
itu menaniki tebing yang tajam di tempian dengan tenaga dari tubuh mungilnya,
bukan saat ia merajang bambu muda untuk di buat sayur dengan pisau pencincang
daging yang hampir lebih besar darinya, atau pekerjaan rumah tangga lainnya,
bukan semua itu, melainkan ibunya. Ya, tugas berat itu adalah ibunya, cintanya
yang besar pada sang ibu
adalah pekerjaan mulia yang paling berat. Ibunya ada di depan mata, namun
kasihnya begitu jauh. Tak terengkuh.
Suatu hari, ibuku memaksaku ikut
bersamanya kerumah Mey yang memang
kebetulan berdekatan dengan rumah dinas bidan desa yang kami tinggali. Ibu membawa sebatang lemang untuk Mey karena saat itu kebetulan sedang di adakan pestival lemang semester pertama di Tanjung Menanti.
“Ibuku suka sekali lemang! Terima kasih ibu bidan, terima kasih”, sahutnya berulang sambil menyalami dan mencium tangan
ibuku. Dari matanya terlihat betapa inginnya Mei memakan lemang itu, namun ia
tak memakannya.
Setelah ia selesai mencuci rambut ibunya, Mey
mengeluarkan isi lemang itu dari buluh wadahnya, ada sekitar 3 batang, termasuk
dari pemberian tetangga yang lain. Tak perlu lama, semua lemang itu dilibas
habis oleh sang ibu. Mey hanya berkata, “Ibu semakin pintar makannya, Mey
senang” katanya, iapun lalu bergegas menyisir rambut sang ibu sebelum wanita
itu mendadak liar. Sementara
di sudut rumah beratap daun padang kusut yang hampir runtuh
itu, aku muntah
melihat cara makannya
ibu Mey yang menjijikkan. Saat itu kami berumur 10, dan aku masih
membenci Mey.
Keesokannya
di ruang kelas, aku membuat pengumuman menjijikkan tentang Mey. ku tunjukkan
pada teman-temanku bagaimana cara makan orang gila yang menakutkan hingga
membuatku mual dan akhirnya muntah. Anehnya, Mey diam saja, namun cukup
berpengaruh pada nilai ujiannya kala itu (kebetulan kami sedang ujian kenaikan
kelas.) Mey biasanya selalu peringkat pertama, namun kali itu ia peringkat 3.
Aku dan Mey memang selalu bersaing dalam hal pelajaran. Kepintaran Mey lah yang
membuatku benci padanya dan melampiaskannya dengan mengolok-olok bocah itu,
terlebih karena ibu selalu membandingkan ku dengan Mey. Mey selalu dijadikan
bahan contoh dalam setiap ceramah ibu saat aku melakukan kesalahan. Dikit-dikit, “Lihat si Mey!”, “Belajarlah dari Mey”,
dan semacamnya. Itu membuatku jengkel dan tak suka.
Sore
itu, di hari yang sama, aku dan 4 orang temanku bermain sepak bola ke dusun
tetangga. Di perjalanan, kami bertemu dengan segerombolan anak SMP yang
menganggu ibu Mey. Mereka mengikat kan 4 tali panjang ke baju ibu Mey di sisi
depan-belakang, samping kiri-kanan, lalu menarik-nariknya secara bergantian
hingga membuat wanita itu terombang-ambing kesana-kemari, mereka lalu terbahak.
Melihat hal itu, aku langsung melemparkan bola yang ada di tanganku tepat ke
kepala salah satu anak yang sudah besar-besar itu. “Heh, tungau! Apa urusanmu
berani ikut campur, heuh?! Dia ibumu?” kata salah seorang dari mereka.
“Dia
tetanggaku, dia ibu temanku! Kenapa?!” tantangku.
“Dubbb…!”
mereka menghajarku lalu pergi setelah bibirku benjol, mata lebam, wajah memar
di sana-sini. Beberapa saat kemudian, Mey yang di ikuti oleh 3 temanku yang
berhasil kabur dari amukan si abang-abang itu datang tergopoh saat aku melepaskan
tali pengikat di sekujur tubuh ibunya yang masih duduk bengong di atas tunggul
di sekitar kami. Pun tak lama kemudian ibuku berlari ke tempat itu. Beberapa
minggu setelah hari itu, keluarga kami pindah ke ibu kota. Ibu bekerja di Jambi dan membuka praktek di kota ini.
Sebagai tetangga, kami
tak sempat ucapkan salam perpisahan pada Mey, kala itu ia sedang keluar mencari ibunya.
Namun Mey rupanya begitu melekat di ingatan hingga akhirnya aku mencari Mey setelah sadar bahwa tak ada nama lain di hatiku selain
Mei
yang sangat ku benci itu,
aku dikelilingi banyak gadis, namun hati, kepala, bahkan kuku ku memikirkan Mey,
bocah kecil itu. Aku datang ke
Tanjung Menanti, namun tak ada lagi Mey di sana. Mey rupanya mengalami hal lebih pahit sepeninggal kami. Orang-orang
mengatakan bahwa Mey diadopsi setelah ibunya meninggal (sebenarnya tertabrak truk batu yang diangkut ayahnya sendiri). Namun atas kehebatannya, lelaki itu malah tak terkena
hukuman apapun, hingga mau tak mau, Mey kemudian tinggal dengan ayahnya tersebut. Namun tak lama, lelaki itupun mendadak lumpuh dan terkena diabetes basah lalu akhirnya juga
pergi selamanya meninggalkan Mey. Mey sementara tinggal dengan seorang ibu tiri pemarah yang kemudian menikah lagi dengan seorang lelaki pemalas.
Jika mau makan, Mey harus menjajakan sayur pakis dahulu untuk
membeli beras. Begitulah ia
bertahan hingga akhirnya diadopsi dan pindah ke kota ini setelah nyawa sang ibu
tiri akhirnya di rampas buaya di suatu pagi di sungai Batanghari.
Setelah
sekian lama aku mencari, akhirnya kami bertemu di sebuah rumah sakit, rumah
sakit jiwa. Mey menjadi perawat di sana, dan aku kebetulan memiliki keperluan
di sana terkait pekerjaanku sebagai seorang pengacara. Kami bertemu di satu
gedung di ruangan yang dipisahkan oleh jendela kaca. Di ruangan sebelahku,
terlihat seorang perawat yang sedang membujuk pasiennya untuk tidur. Dari
tempatku berdiri, terus ku perhatikan si perawat itu, ia akhirnya membuat si
pasien tertidur tenang. Tak lama ia berdiri dan menutup gelas air yang ada di
belakangnya. Aku tertegun saat ia mengangkat wajah. Pun wajahnya nampak berubah
saat melihatku. Aku
masih mengenali wajah itu. itulah Mey, orang yang ku cari-cari. Kami berdiri
lama tak berpindah, kami tak tersenyum tak pula menggerakkan bibir untuk bicara
atau memberi kode, atau memberi uap di jendela kaca dengan nafas kami lalu
menulis, “Kau Mey, kan?” atau “Apakah kau Jill?” tidak! Kami hanya diam,
menatap, Mey mengeluarkan bahasanya dari bulir air yang jatuh dari pipinya. Aku
malu mengatakan bahwa air itu juga tak mampu kubendung. Singkatnya, pertemuan
itu membawa kami pada pernikahan. Pernikahan yang membuatku semakin mengenal
Mey. Mey, membuat berat badanku menyusut begitu banyak. Mey
membuatku di panggil polisi karena mengelap ingus anak
orang lain, saat mengantri membayar tagihan air yang berujung pelaporan orang
tuanya ke polisi karena ia dicurigai telah mencuri kalung emas bocah itu.
Mey, membuatku lari terbirit tanpa alas kaki ke ruang UGD beberapa
hari lalu ketika kepalanya
yang keras itu terbentur gerobak semangka saat ia membantu nenek tak dikenal di
Pasar Keluarga
di sekitar kediaman kami. Mey memang
keterlaluan, di buku hariannya ia bahkan menulis tentang ku, “Suamiku, lelaki brengsek yang ku cintai
itu tampak lelah sekali, bocah nakal yang dulu selalu sinis padaku itu, saat
ini memperlakukanku seperti bayinya. Diletakkannya kepalaku di atas satu lengannya, lalu ia bernyanyi untukku sebelum tidur. Ah, malam ini dia sudah tertidur
duluan! Padahal aku ingin sekali menggodanya dan menjawab pertanyaan lamanya tentang lemang dan garam. Bahwa lemang adalah makanan paling mewah yang pernah dimakan
ibu, bahwa rebung adalah makanan paling mudah didapat yang dulu hanya mampu kami makan
setiap hari, memakan dua makanan itu, membuatku merasa bahwa ibu selalu
bersamaku. Aku bukanya
tidak suka garam, namun sedikit
menghindar saja, karena dulu
keluargaku rasanya sangat asin. Saat tahu ayah
meninggalkan kami,
aku menangis, dan itu asin.
Ibu dilempari anak lain dengan buah pinang, aku juga menangis, dan itu asin. Aku menangis saat di
olok-olok anak orang gila, dan itu asin. Melihat garam, membuatku ingat semua itu. Jillbara!? Itulah jawabannya. Kau
tahu? Aku mencintaimu karena kau brengsek, selalu menyuapiku makanan bergizi
yang takku suka, selalu ingin tahu perasaanku. Aku mencintaimu
karena sebetulnya aku juga tak tahu kenapa aku mencintaimu. Jill, Lalu kenapa kau mencintaiku.....?”
Oh,
Mey!? Bagaimana mungkin gerobak semangka mampu merenggutmu dariku? Saat kau
belum tahu kenapa aku mencintaimu? Mey, aku mencintaimu karena kau itu bodoh, Mei. Bodoh karena kau selalu menjadi
juara kelas. Kau bodoh, karena selalu menyalahkan dirimu sendiri atas kematian
ibumu dan tak mampu menjaganya. Aku mencintaimu karena kau itu kacau dan keras
kepala, kau adopsi kucing-kucing jalanan, kau ajak tidur berjama’ah di kamar
kita. Kau itu “Hantu
Lemang” yang membantu orang lain tanpa
berpikir. Mey, bagaimana ini? Aku rindu mengutukmu juga memelukmu. Mey...!?
SELESAI
PENULIS : Susri Yunita

Tidak ada komentar:
Posting Komentar