Senin, 26 Februari 2018



Pestival Lemang  

ANTARA MEY, LEMANG DAN GARAM

Aku menikah dengan seorang mafia lemang yang menjengkelkan. Istriku itu bisa mempermalukan ku empat kali dalam 4 menit saat berada di acara atau pesta adat di keluarga kami dengan menghabiskan sajian lemang di hadapannya tanpa menyisakan untuk yang lain. Dia tak peka, sekuat apapun aku mencubit betis atau kakinya atau apapun yang bisa di cubit dari tubuh keringnya. Dia tidak tahu betapa gugupnya aku saat semua mata tertuju padanya. Eh, dia? Santai saja tanpa rasa apa-apa. Malu? Tidak ada! Sungkan? Heuh, jauh! Padahal di rumah, dia punya langganan lemang setiap hari. Setiap pagi, si unni tukang lemang mengantarkan benda di dalam buluh itu ke rumah. Tapi yang aku heran adalah dia tidak pernah bosan. Karena keanehannya itu, aku menjulukinya dengan “Hantu Lemang”. Dia bisa menghabiskan 3-5 batang lemang setiap hari tanpa bosan. Pokoknya, dia menganggap dirinya itu semacam menteri lemang atau sebangsa duta lemang.
Aku tidak habis pikir, selain lemang, akhir-akhir ini dia tidak menyukai makanan lain kecuali tumis Rebung Asam Manis Pedas tanpa garam, bahkan sebesar upilpun tidak ada garam. Mau tahu siapa musuh besarnya? Bukan, bukan mendiang ibu tirinya yang mati di santap buaya di tahun 1999 silam. Jangankan ibu tiri, dia bahkan menganggap ibu orang lain adalah ibunya, ayah nya tetangga adalah ayahnya juga. Alih-alih memusuhi orang yang telah mati atau tetangga, kucing tetangga saja dia anggap keluarganya. Memberi makan, atau memandikan kucing jalanan adalah hal biasa baginya. Kenapa? Karena tak ada hal yang dihindari Mey kecuali garam dapur, selain lemang, rebung adalah makanan kesukaanya, itulah fakta tentang Mey. Aku selalu bertanya, kenapa dia suka sekali hal-hal yang berkaitan dengan bambu. Lemang, diwadahi dengan bambu, rebung adalah bayinya bambu. Apa jawabannya saat aku bertanya hal seperti itu?, “Aku bukan manusia, tapi nenek moyangnya Panda yang cinta pada Jillbara” katanya. Menjengkelkan bukan? Ia memang memiliki kemampuan membuat lelaki keren nan brengsek seperti ku menggila.
Adalah Mey, Meyana Amira nama lengkapnya. Ia lahir di sebuah dusun bernama Tanjung Menanti, di sebuah kabupaten yang ada di kota Jambi. Aku sudah mengenalnya sebagai tetangga sejak kami masih kanak-kanak. Saat kecil, aku sudah tidak suka pada Mey, aku benci pada Mey. Aku adalah salah satu anak lelaki yang sering kali membuat Mey menangis karena bersama anak lain aku mengolok ibunya yang sakit jiwa. Menurut tetua kampung, ibu Mey dulu baik-baik saja sebelum ayahnya pergi dengan wanita lain di kampung tetangga saat umur Mey baru 5 bulan di kandungan. Setelah Mey lahir, mereka berpisah dan ibunya semakin hari semakin aneh dan akhirnya dijuluki sebagi “Unghang gilo elok” di dusun Tanjung. Benar, saat remaja, ibunya Mey dikatakan mirip artis senior Indonesia Widyawati kala muda, ia begitu elok, cantik. Ia juga dikenal sangat mahir bersida (menyanyikan syair adat pernikahan) yang tak semua orang bisa melakukannya. Ibu Mey, adalah orang yang sering dimintai untuk bersida. “Sulit untuk tidak meneteskan air mata saat ia mulai melantunkan syair yang mendayu-dayu itu” begitu kata orang-orang.
Namun sayang, Mey tak bisa melihat itu semua. Ia hanya tahu bahwa ibunya adalah seseorang yang berkeliaran menari dan menginjak-injak hamparan padi dan pinang tetangga yang dijemur di sepanjang halaman rumah. Wanita cantik itu sudah digantikan oleh sosok super kurus dengan wajah runtuh, berjalan sembarang, tertawa tanpa sebab, menangis seolah-olah ia sedang di sakiti. Yang Mey ketahui itu adalah ia ditinggalkan ayahnya dan menjadi wali murid bagi ibunya. Mey adalah ibu dari ibunya sendiri. Ibu yang selalu dilempari dan dihalau orang karena menganggu. Mey harus mengepel lantai orang lain yang di lempari pasir oleh ibunya. Membersihkan jendela orang lain karena dicorat-coret dengan tanah lembek oleh ibunya. Memunguti padi, pinang, jagung, kopi atau apapun yang di jemur tetangga di halaman rumah mereka. Ada tetangga yang maklum, namun banyak juga yang kesal, hingga berteriak pada Mey meminta pertanggung jawaban, namun tanpa diminta Mey memang selalu bertanggung jawab atas itu semua.
Mey saat bayi dirawat oleh sang nenek, ibu dari ibunya. Namun saat usia 7 Mei dan ibunya ditinggal mati sang nenek yang menderita gangguan pencernaan. Kematian nenek Mey adalah mula alih semua kepengurusan di pundak Mey. Saat penyakit wanita itu sedang kambuh parah, bocah itu sangat kesusahan membawa ibunya pulang. Pernah di suatu hari yang mulai senja, Mey membujuk ibunya pulang. Alih-alih mengikutinya, sang ibu malah melemparnya dengan kuat ke tumpukan jerami di tepi sawah. Tapi ia tak putus asa dan bangkit kembali mengejar sang ibu, ia memamapah sambil membujuknya dengan berbagai kata rayuan, “Ayo pulang bu, nanti ku kasih hadiah dan ku kasih cium di rumah. Ayo kita cuci rambutmu” katanya. Apa yang terjadi? Untuk kesekian kalinya ia terjungkal, terjerembab kedalam sawah, kekuatannya yang kecil sudah tidak mampu menahan ibunya. Dari dalam lumpur itu ia menangis melihat punggung ibunya yang kembali pergi semakin jauh. Mey memang sering menangis, namun wajahnya selalu tampak sangat ceria. Mey selain cerdas dan menjadi sainganku di sekolah, juga piawai memasak, ia bahkan sudah bisa memasak tumis Rebung Asam Manis Pedas di usia 7. Setelah neneknya meninggal, Mey memang dituntut takdir untuk bisa segalanya. Tugas paling beratnya ku rasa bukanlah saat ia mencuci berember-ember besar pakaian kumal ibunya di sungai Batanghari, bukan saat ia hampir kehilangan nafas mengangkat ember-ember besar itu menaniki tebing yang tajam di tempian dengan tenaga dari tubuh mungilnya, bukan saat ia merajang bambu muda untuk di buat sayur dengan pisau pencincang daging yang hampir lebih besar darinya, atau pekerjaan rumah tangga lainnya, bukan semua itu, melainkan ibunya. Ya, tugas berat itu adalah ibunya, cintanya yang besar pada sang ibu adalah pekerjaan mulia yang paling berat. Ibunya ada di depan mata, namun kasihnya begitu jauh. Tak terengkuh.
Suatu hari, ibuku memaksaku ikut bersamanya kerumah Mey yang memang kebetulan berdekatan dengan rumah dinas bidan desa yang kami tinggali. Ibu membawa sebatang lemang untuk Mey karena saat itu kebetulan sedang di adakan pestival lemang semester pertama di Tanjung Menanti. Ibuku suka sekali lemang! Terima kasih ibu bidan, terima kasih”, sahutnya berulang sambil menyalami dan mencium tangan ibuku. Dari matanya terlihat betapa inginnya Mei memakan lemang itu, namun ia tak memakannya. Setelah ia selesai mencuci rambut ibunya, Mey mengeluarkan isi lemang itu dari buluh wadahnya, ada sekitar 3 batang, termasuk dari pemberian tetangga yang lain. Tak perlu lama, semua lemang itu dilibas habis oleh sang ibu. Mey hanya berkata, “Ibu semakin pintar makannya, Mey senang” katanya, iapun lalu bergegas menyisir rambut sang ibu sebelum wanita itu mendadak liar. Sementara di sudut rumah beratap daun padang kusut yang hampir runtuh itu, aku muntah melihat cara makannya ibu Mey yang menjijikkan. Saat itu kami berumur 10, dan aku masih membenci Mey.
Keesokannya di ruang kelas, aku membuat pengumuman menjijikkan tentang Mey. ku tunjukkan pada teman-temanku bagaimana cara makan orang gila yang menakutkan hingga membuatku mual dan akhirnya muntah. Anehnya, Mey diam saja, namun cukup berpengaruh pada nilai ujiannya kala itu (kebetulan kami sedang ujian kenaikan kelas.) Mey biasanya selalu peringkat pertama, namun kali itu ia peringkat 3. Aku dan Mey memang selalu bersaing dalam hal pelajaran. Kepintaran Mey lah yang membuatku benci padanya dan melampiaskannya dengan mengolok-olok bocah itu, terlebih karena ibu selalu membandingkan ku dengan Mey. Mey selalu dijadikan bahan contoh dalam setiap ceramah ibu saat aku melakukan kesalahan. Dikit-dikit, “Lihat si Mey!”, “Belajarlah dari Mey”, dan semacamnya. Itu membuatku jengkel dan tak suka.
Sore itu, di hari yang sama, aku dan 4 orang temanku bermain sepak bola ke dusun tetangga. Di perjalanan, kami bertemu dengan segerombolan anak SMP yang menganggu ibu Mey. Mereka mengikat kan 4 tali panjang ke baju ibu Mey di sisi depan-belakang, samping kiri-kanan, lalu menarik-nariknya secara bergantian hingga membuat wanita itu terombang-ambing kesana-kemari, mereka lalu terbahak. Melihat hal itu, aku langsung melemparkan bola yang ada di tanganku tepat ke kepala salah satu anak yang sudah besar-besar itu. “Heh, tungau! Apa urusanmu berani ikut campur, heuh?! Dia ibumu?” kata salah seorang dari mereka.
“Dia tetanggaku, dia ibu temanku! Kenapa?!” tantangku.
“Dubbb…!” mereka menghajarku lalu pergi setelah bibirku benjol, mata lebam, wajah memar di sana-sini. Beberapa saat kemudian, Mey yang di ikuti oleh 3 temanku yang berhasil kabur dari amukan si abang-abang itu datang tergopoh saat aku melepaskan tali pengikat di sekujur tubuh ibunya yang masih duduk bengong di atas tunggul di sekitar kami. Pun tak lama kemudian ibuku berlari ke tempat itu. Beberapa minggu setelah hari itu, keluarga kami pindah ke ibu kota. Ibu bekerja di Jambi dan membuka praktek di kota ini. Sebagai tetangga, kami tak sempat ucapkan salam perpisahan pada Mey, kala itu ia sedang keluar mencari ibunya. Namun Mey rupanya begitu melekat di ingatan hingga akhirnya aku mencari Mey setelah sadar bahwa tak ada nama lain di hatiku selain Mei yang sangat ku benci itu, aku dikelilingi banyak gadis, namun hati, kepala, bahkan kuku ku memikirkan Mey, bocah kecil itu. Aku datang ke Tanjung Menanti, namun tak ada lagi Mey di sana. Mey rupanya mengalami hal lebih pahit sepeninggal kami. Orang-orang mengatakan bahwa Mey diadopsi setelah ibunya meninggal (sebenarnya tertabrak truk batu yang diangkut ayahnya sendiri). Namun atas kehebatannya, lelaki itu malah tak terkena hukuman apapun, hingga mau tak mau, Mey kemudian tinggal dengan ayahnya tersebut. Namun tak lama, lelaki itupun mendadak lumpuh dan terkena diabetes basah lalu akhirnya juga pergi selamanya meninggalkan Mey. Mey sementara tinggal dengan seorang ibu tiri pemarah yang kemudian menikah lagi dengan seorang lelaki pemalas. Jika mau makan, Mey harus menjajakan sayur pakis dahulu untuk membeli beras. Begitulah ia bertahan hingga akhirnya diadopsi dan pindah ke kota ini setelah nyawa sang ibu tiri akhirnya di rampas buaya di suatu pagi di sungai Batanghari.
Setelah sekian lama aku mencari, akhirnya kami bertemu di sebuah rumah sakit, rumah sakit jiwa. Mey menjadi perawat di sana, dan aku kebetulan memiliki keperluan di sana terkait pekerjaanku sebagai seorang pengacara. Kami bertemu di satu gedung di ruangan yang dipisahkan oleh jendela kaca. Di ruangan sebelahku, terlihat seorang perawat yang sedang membujuk pasiennya untuk tidur. Dari tempatku berdiri, terus ku perhatikan si perawat itu, ia akhirnya membuat si pasien tertidur tenang. Tak lama ia berdiri dan menutup gelas air yang ada di belakangnya. Aku tertegun saat ia mengangkat wajah. Pun wajahnya nampak berubah saat melihatku. Aku masih mengenali wajah itu. itulah Mey, orang yang ku cari-cari. Kami berdiri lama tak berpindah, kami tak tersenyum tak pula menggerakkan bibir untuk bicara atau memberi kode, atau memberi uap di jendela kaca dengan nafas kami lalu menulis, “Kau Mey, kan?” atau “Apakah kau Jill?” tidak! Kami hanya diam, menatap, Mey mengeluarkan bahasanya dari bulir air yang jatuh dari pipinya. Aku malu mengatakan bahwa air itu juga tak mampu kubendung. Singkatnya, pertemuan itu membawa kami pada pernikahan. Pernikahan yang membuatku semakin mengenal Mey. Mey, membuat berat badanku menyusut begitu banyak. Mey membuatku di panggil polisi karena mengelap ingus anak orang lain, saat mengantri membayar tagihan air yang berujung pelaporan orang tuanya ke polisi karena ia dicurigai telah mencuri kalung emas bocah itu. Mey, membuatku lari terbirit tanpa alas kaki ke ruang UGD beberapa hari lalu ketika kepalanya yang keras itu terbentur gerobak semangka saat ia membantu nenek tak dikenal di Pasar Keluarga di sekitar kediaman kami. Mey memang keterlaluan, di buku hariannya ia bahkan menulis tentang ku, Suamiku, lelaki brengsek yang ku cintai itu tampak lelah sekali, bocah nakal yang dulu selalu sinis padaku itu, saat ini memperlakukanku seperti bayinya. Diletakkannya kepalaku di atas satu lengannya, lalu ia bernyanyi untukku sebelum tidur. Ah, malam ini dia sudah tertidur duluan! Padahal aku ingin sekali menggodanya dan menjawab pertanyaan lamanya tentang lemang dan garam. Bahwa lemang adalah makanan paling mewah yang pernah dimakan ibu, bahwa rebung adalah makanan paling mudah didapat yang dulu hanya mampu kami makan setiap hari, memakan dua makanan itu, membuatku merasa bahwa ibu selalu bersamaku. Aku bukanya tidak suka garam, namun sedikit menghindar saja, karena dulu keluargaku rasanya sangat asin. Saat tahu ayah meninggalkan kami, aku menangis, dan itu asin. Ibu dilempari anak lain dengan buah pinang, aku juga menangis, dan itu asin. Aku menangis saat di olok-olok anak orang gila, dan itu asin. Melihat garam, membuatku ingat semua itu. Jillbara!? Itulah jawabannya. Kau tahu? Aku mencintaimu karena kau brengsek, selalu menyuapiku makanan bergizi yang takku suka, selalu ingin tahu perasaanku. Aku mencintaimu karena sebetulnya aku juga tak tahu kenapa aku mencintaimu. Jill, Lalu kenapa kau mencintaiku.....?”
Oh, Mey!? Bagaimana mungkin gerobak semangka mampu merenggutmu dariku? Saat kau belum tahu kenapa aku mencintaimu? Mey, aku mencintaimu karena kau itu bodoh, Mei. Bodoh karena kau selalu menjadi juara kelas. Kau bodoh, karena selalu menyalahkan dirimu sendiri atas kematian ibumu dan tak mampu menjaganya. Aku mencintaimu karena kau itu kacau dan keras kepala, kau adopsi kucing-kucing jalanan, kau ajak tidur berjama’ah di kamar kita. Kau itu “Hantu Lemang” yang membantu orang lain tanpa berpikir. Mey, bagaimana ini? Aku rindu mengutukmu juga memelukmu. Mey...!?

SELESAI

PENULIS : Susri Yunita 

Sabtu, 24 Februari 2018

UJIAN SEBUAH PERJALANAN YANG MEMBUAHKAN PELAJARAN DAN PERSAHABATAN

                                                          Bromo, 2012 


UJIAN SEBUAH PERJALANAN YANG MEMBUAHKAN PELAJARAN DAN PERSAHABATAN



      Kata “ujian” sepertinya berkerabat dekat dengan “Sesuatu yang tidak menyenangkan dan menggelisahkan”. Tapi kata siapa selalu begitu? Nah, pada kesempatan ini, saya akan berkisah tentang travel penuh ujian dan tantangan yang pada akhirnya menawarkan banyak pelajaran dan juga persahabatan (terjalin hingga kini) yang saya dan Elhalwa, teman saya alami pada awal tahun 2012 lalu.
      Jika diingat, memang tak mudah bagi kami mempersiapkan perjalanan tersebut, mulai dari bagaimana menabung dan mengumpulkan uang, hingga sengaja membawa bekal sedikit nasi beserta sambal teri dan kacang tanah selama perjalanan. Selain memang enak, itulah secuil cara terkeren menghemat uang saat bepergian versi kami. Dari jauh-jauh hari kami telah membayangkan perjalanan itu pasti menyenangkan terlebih karena menggunakan transportasi darat yang memungkinkan kami untuk leluasa menikmati perjalanan saat melintasi setiap kota yang dilewati. Kata teman saya, jika masih seputar Sumatera-Jawa saja serba naik pesawat, travelling nya bakal tak mabrur, tak afdhol, katanya.
      Maka dengan bekal semangat membara itu, perjalanan kami dari tugu perbatasan antara provinsi Jambi-Palembang (kami berangkat dari rumah teman saya) untuk menelusuri pulau Jawa pun di mulai.  Tujuan awal kami adalah jawa Timur; Pare (kampung inggris), bromo dan gunung Kelud, agenda berikutnya barulah Jawa Tengah yang juga tak kalah penting untuk dijelajahi.
       Namun apa yang terjadi? Penjelajahan itu diawali oleh hal kurang menyenangkan. Terjadi kesalahan komunikasi dengan pihak travel yang kami tumpangi. Berujung, bus tersebut harus putar arah (mundur) untuk menjemput kami kembali (terlewat) hingga membuat semua penumpang menyumpahi kami selama perjalanan kurang lebih 3 hari 2 malam Sumatera-Jawa. Menurut versi kami, kesalahan tentu bukan dari pihak kami yang sudah dengan sangat jelas menyebutkan alamat rumah teman saya di perbatasan Jambi-Palembang itu. Namun sang sopir bersikeras hingga membentak, pun begitu para penumpang, di sepanjang perjalanan ada saja yang nyeletuk, menyindir, bahkan meneriaki kami sebagai sebab keterlambatan yang jika diperkirakan hanya sekitar 15 menit saja. Tak ada yang bisa di ajak bicara dengan baik selama perjalanan. Boleh dikatakan kami "tak memiliki teman" saat pergi, bahkan ketika berpamit untuk shalat dikala bus berhenti di beberapa rumah makan saja, semuanya tampak sinis dan marah. Namun bagian yang paling tak terlupakan dari semua itu adalah saat saya sempat mengalami demam selama perjalanan. Belum lagi saat tiba di Jawa Timur, saya hampir menyerah karena untuk sampai ke kota Kediri saja ternyata kami harus naik angkutan umum hingga beberapa kali, termasuk berjalan kaki sampai berkilo meter di bawah terik matahari siang sambil menenteng barang bawaan dan menyeret satu buah koper. kenapa koper? karena ketika itu, selain ingin membolang alam, kami juga ingin membolang ilmu pengetahuan di Pare(kampung inggris) barang beberapa minggu saja. Melelahkan, terlebih saya dalam keadaan demam, kaki lecet dan kondisi mental yang kurang baik pula kala itu.



      Hei, bukan perjalanan namanya jika tidak terselip pelajaran. Pun, di sinilah hebatnya perjuangan. Saat mengijakkan kaki di Pare, satu persatu kesulitan itu tergantikan oleh keseruan teman-teman baru  dari berbagai daerah yang dijumpai di sana, serta petualangan traveleling tak terduga bersama mereka ke gunung Bromo, ke gumul, serta tempat wisata lainnya seperti BNS (Batu Night Spectacular) di Batu, Malang. Akhirnya, dari pengalaman ini saya baru sadar benar, bahwa untuk menjemput sesuatu yang indah itu memang butuh perjuangan dan kesabaran tak biasa. Entah itu keindahan pemandangan, keindahan ilmu pengetahuan, keindahan persahabatan, dsb. Satu yang pasti, rintangan mengajarkan segalanya. Inilah makna sebuah perjalanan, kami mungkin tak berteman saat pergi, namun memiliki oleh-oleh pelajaran dan persahabatan saat pulang. 
      
      
      
Memburu sunset ke Bromo (waktu dini hari)   


Disambut sunset  

foto salah satu teman dengan latar Bromo di pagi hari


Sebelum mendaki 
Disambut kawah Bromo
Di BNS (Batu Night Spectacular) Malang 


Kampung Inggris, Pare

PENULIS: Susri Yunita 

Rabu, 21 Februari 2018

ANTARA MEY, LEMANG DAN GARAM--- cerpen

Description: D:\FILE YUN\FB_IMG_15107816400204217.jpg
gambar pestival lemang 

ANTARA MEY, LEMANG DAN GARAM
Aku menikah dengan seorang mafia lemang yang menjengkelkan. Istriku itu bisa mempermalukan ku empat kali dalam 4 menit saat berada di acara atau pesta adat di keluarga kami dengan menghabiskan sajian lemang di hadapannya tanpa menyisakan untuk yang lain. Dia tak peka, sekuat apapun aku mencubit betis atau kakinya atau apapun yang bisa di cubit dari tubuh keringnya. Dia tidak tahu betapa gugupnya aku saat semua mata tertuju padanya. Eh, dia? Santai saja tanpa rasa apa-apa. Malu? Tidak ada! Sungkan? Heuh, jauh! Padahal di rumah, dia punya langganan lemang setiap hari. Setiap pagi, si unni tukang lemang mengantarkan benda di dalam buluh itu ke rumah. Tapi yang aku heran adalah dia tidak pernah bosan. Karena keanehannya itu, aku menjulukinya dengan “Hantu Lemang”. Dia bisa menghabiskan 3-5 batang lemang setiap hari tanpa bosan. Pokoknya, dia menganggap dirinya itu semacam menteri lemang atau sebangsa duta lemang.
Aku tidak habis pikir, selain lemang, akhir-akhir ini dia tidak menyukai makanan lain kecuali tumis Rebung Asam Manis Pedas tanpa garam, bahkan sebesar upilpun tidak ada garam. Mau tahu siapa musuh besarnya? Bukan, bukan mendiang ibu tirinya yang mati di santap buaya di tahun 1999 silam. Jangankan ibu tiri, dia bahkan menganggap ibu orang lain adalah ibunya, ayah nya tetangga adalah ayahnya juga. Alih-alih memusuhi orang yang telah mati atau tetangga, kucing tetangga saja dia anggap keluarganya. Memberi makan, atau memandikan kucing jalanan adalah hal biasa baginya. Kenapa? Karena tak ada hal yang dihindari Mey kecuali garam dapur, selain lemang, rebung adalah makanan kesukaanya, itulah fakta tentang Mey. Aku selalu bertanya, kenapa dia suka sekali hal-hal yang berkaitan dengan bambu. Lemang, diwadahi dengan bambu, rebung adalah bayinya bambu. Apa jawabannya saat aku bertanya hal seperti itu?, “Aku bukan manusia, tapi nenek moyangnya Panda yang cinta pada Jillbara” katanya. Menjengkelkan bukan? Ia memang memiliki kemampuan membuat lelaki keren nan brengsek seperti ku menggila.
Adalah Mey, Meyana Amira nama lengkapnya. Ia lahir di sebuah dusun bernama Tanjung Menanti, di sebuah kabupaten yang ada di kota Jambi. Aku sudah mengenalnya sebagai tetangga sejak kami masih kanak-kanak. Saat kecil, aku sudah tidak suka pada Mey, aku benci pada Mey. Aku adalah salah satu anak lelaki yang sering kali membuat Mey menangis karena bersama anak lain aku mengolok ibunya yang sakit jiwa. Menurut tetua kampung, ibu Mey dulu baik-baik saja sebelum ayahnya pergi dengan wanita lain di kampung tetangga saat umur Mey baru 5 bulan di kandungan. Setelah Mey lahir, mereka berpisah dan ibunya semakin hari semakin aneh dan akhirnya dijuluki sebagi “Unghang gilo elok” di dusun Tanjung. Benar, saat remaja, ibunya Mey dikatakan mirip artis senior Indonesia Widyawati kala muda, ia begitu elok, cantik. Ia juga dikenal sangat mahir bersida (menyanyikan syair adat pernikahan) yang tak semua orang bisa melakukannya. Ibu Mey, adalah orang yang sering dimintai untuk bersida. “Sulit untuk tidak meneteskan air mata saat ia mulai melantunkan syair yang mendayu-dayu itu” begitu kata orang-orang.
Namun sayang, Mey tak bisa melihat itu semua. Ia hanya tahu bahwa ibunya adalah seseorang yang berkeliaran menari dan menginjak-injak hamparan padi dan pinang tetangga yang dijemur di sepanjang halaman rumah. Wanita cantik itu sudah digantikan oleh sosok super kurus dengan wajah runtuh, berjalan sembarang, tertawa tanpa sebab, menangis seolah-olah ia sedang di sakiti. Yang Mey ketahui itu adalah ia ditinggalkan ayahnya dan menjadi wali murid bagi ibunya. Mey adalah ibu dari ibunya sendiri. Ibu yang selalu dilempari dan dihalau orang karena menganggu. Mey harus mengepel lantai orang lain yang di lempari pasir oleh ibunya. Membersihkan jendela orang lain karena dicorat-coret dengan tanah lembek oleh ibunya. Memunguti padi, pinang, jagung, kopi atau apapun yang di jemur tetangga di halaman rumah mereka. Ada tetangga yang maklum, namun banyak juga yang kesal, hingga berteriak pada Mey meminta pertanggung jawaban, namun tanpa diminta Mey memang selalu bertanggung jawab atas itu semua.
Mey saat bayi dirawat oleh sang nenek, ibu dari ibunya. Namun saat usia 7 Mei dan ibunya ditinggal mati sang nenek yang menderita gangguan pencernaan. Kematian nenek Mey adalah mula alih semua kepengurusan di pundak Mey. Saat penyakit wanita itu sedang kambuh parah, bocah itu sangat kesusahan membawa ibunya pulang. Pernah di suatu hari yang mulai senja, Mey membujuk ibunya pulang. Alih-alih mengikutinya, sang ibu malah melemparnya dengan kuat ke tumpukan jerami di tepi sawah. Tapi ia tak putus asa dan bangkit kembali mengejar sang ibu, ia memamapah sambil membujuknya dengan berbagai kata rayuan, “Ayo pulang bu, nanti ku kasih hadiah dan ku kasih cium di rumah. Ayo kita cuci rambutmu” katanya. Apa yang terjadi? Untuk kesekian kalinya ia terjungkal, terjerembab kedalam sawah, kekuatannya yang kecil sudah tidak mampu menahan ibunya. Dari dalam lumpur itu ia menangis melihat punggung ibunya yang kembali pergi semakin jauh. Mey memang sering menangis, namun wajahnya selalu tampak sangat ceria. Mey selain cerdas dan menjadi sainganku di sekolah, juga piawai memasak, ia bahkan sudah bisa memasak tumis Rebung Asam Manis Pedas di usia 7. Setelah neneknya meninggal, Mey memang dituntut takdir untuk bisa segalanya. Tugas paling beratnya ku rasa bukanlah saat ia mencuci berember-ember besar pakaian kumal ibunya di sungai Batanghari, bukan saat ia hampir kehilangan nafas mengangkat ember-ember besar itu menaniki tebing yang tajam di tempian dengan tenaga dari tubuh mungilnya, bukan saat ia merajang bambu muda untuk di buat sayur dengan pisau pencincang daging yang hampir lebih besar darinya, atau pekerjaan rumah tangga lainnya, bukan semua itu, melainkan ibunya. Ya, tugas berat itu adalah ibunya, cintanya yang besar pada sang ibu adalah pekerjaan mulia yang paling berat. Ibunya ada di depan mata, namun kasihnya begitu jauh. Tak terengkuh.
Suatu hari, ibuku memaksaku ikut bersamanya kerumah Mey yang memang kebetulan berdekatan dengan rumah dinas bidan desa yang kami tinggali. Ibu membawa sebatang lemang untuk Mey karena saat itu kebetulan sedang di adakan pestival lemang semester pertama di Tanjung Menanti. Ibuku suka sekali lemang! Terima kasih ibu bidan, terima kasih”, sahutnya berulang sambil menyalami dan mencium tangan ibuku. Dari matanya terlihat betapa inginnya Mei memakan lemang itu, namun ia tak memakannya. Setelah ia selesai mencuci rambut ibunya, Mey mengeluarkan isi lemang itu dari buluh wadahnya, ada sekitar 3 batang, termasuk dari pemberian tetangga yang lain. Tak perlu lama, semua lemang itu dilibas habis oleh sang ibu. Mey hanya berkata, “Ibu semakin pintar makannya, Mey senang” katanya, iapun lalu bergegas menyisir rambut sang ibu sebelum wanita itu mendadak liar. Sementara di sudut rumah beratap daun padang kusut yang hampir runtuh itu, aku muntah melihat cara makannya ibu Mey yang menjijikkan. Saat itu kami berumur 10, dan aku masih membenci Mey.
Keesokannya di ruang kelas, aku membuat pengumuman menjijikkan tentang Mey. ku tunjukkan pada teman-temanku bagaimana cara makan orang gila yang menakutkan hingga membuatku mual dan akhirnya muntah. Anehnya, Mey diam saja, namun cukup berpengaruh pada nilai ujiannya kala itu (kebetulan kami sedang ujian kenaikan kelas.) Mey biasanya selalu peringkat pertama, namun kali itu ia peringkat 3. Aku dan Mey memang selalu bersaing dalam hal pelajaran. Kepintaran Mey lah yang membuatku benci padanya dan melampiaskannya dengan mengolok-olok bocah itu, terlebih karena ibu selalu membandingkan ku dengan Mey. Mey selalu dijadikan bahan contoh dalam setiap ceramah ibu saat aku melakukan kesalahan. Dikit-dikit, “Lihat si Mey!”, “Belajarlah dari Mey”, dan semacamnya. Itu membuatku jengkel dan tak suka.
Sore itu, di hari yang sama, aku dan 4 orang temanku bermain sepak bola ke dusun tetangga. Di perjalanan, kami bertemu dengan segerombolan anak SMP yang menganggu ibu Mey. Mereka mengikat kan 4 tali panjang ke baju ibu Mey di sisi depan-belakang, samping kiri-kanan, lalu menarik-nariknya secara bergantian hingga membuat wanita itu terombang-ambing kesana-kemari, mereka lalu terbahak. Melihat hal itu, aku langsung melemparkan bola yang ada di tanganku tepat ke kepala salah satu anak yang sudah besar-besar itu. “Heh, tungau! Apa urusanmu berani ikut campur, heuh?! Dia ibumu?” kata salah seorang dari mereka.
“Dia tetanggaku, dia ibu temanku! Kenapa?!” tantangku.
“Dubbb…!” mereka menghajarku lalu pergi setelah bibirku benjol, mata lebam, wajah memar di sana-sini. Beberapa saat kemudian, Mey yang di ikuti oleh 3 temanku yang berhasil kabur dari amukan si abang-abang itu datang tergopoh saat aku melepaskan tali pengikat di sekujur tubuh ibunya yang masih duduk bengong di atas tunggul di sekitar kami. Pun tak lama kemudian ibuku berlari ke tempat itu. Beberapa minggu setelah hari itu, keluarga kami pindah ke ibu kota. Ibu bekerja di Jambi dan membuka praktek di kota ini. Sebagai tetangga, kami tak sempat ucapkan salam perpisahan pada Mey, kala itu ia sedang keluar mencari ibunya. Namun Mey rupanya begitu melekat di ingatan hingga akhirnya aku mencari Mey setelah sadar bahwa tak ada nama lain di hatiku selain Mei yang sangat ku benci itu, aku dikelilingi banyak gadis, namun hati, kepala, bahkan kuku ku memikirkan Mey, bocah kecil itu. Aku datang ke Tanjung Menanti, namun tak ada lagi Mey di sana. Mey rupanya mengalami hal lebih pahit sepeninggal kami. Orang-orang mengatakan bahwa Mey diadopsi setelah ibunya meninggal (sebenarnya tertabrak truk batu yang diangkut ayahnya sendiri). Namun atas kehebatannya, lelaki itu malah tak terkena hukuman apapun, hingga mau tak mau, Mey kemudian tinggal dengan ayahnya tersebut. Namun tak lama, lelaki itupun mendadak lumpuh dan terkena diabetes basah lalu akhirnya juga pergi selamanya meninggalkan Mey. Mey sementara tinggal dengan seorang ibu tiri pemarah yang kemudian menikah lagi dengan seorang lelaki pemalas. Jika mau makan, Mey harus menjajakan sayur pakis dahulu untuk membeli beras. Begitulah ia bertahan hingga akhirnya diadopsi dan pindah ke kota ini setelah nyawa sang ibu tiri akhirnya di rampas buaya di suatu pagi di sungai Batanghari.
Setelah sekian lama aku mencari, akhirnya kami bertemu di sebuah rumah sakit, rumah sakit jiwa. Mey menjadi perawat di sana, dan aku kebetulan memiliki keperluan di sana terkait pekerjaanku sebagai seorang pengacara. Kami bertemu di satu gedung di ruangan yang dipisahkan oleh jendela kaca. Di ruangan sebelahku, terlihat seorang perawat yang sedang membujuk pasiennya untuk tidur. Dari tempatku berdiri, terus ku perhatikan si perawat itu, ia akhirnya membuat si pasien tertidur tenang. Tak lama ia berdiri dan menutup gelas air yang ada di belakangnya. Aku tertegun saat ia mengangkat wajah. Pun wajahnya nampak berubah saat melihatku. Aku masih mengenali wajah itu. itulah Mey, orang yang ku cari-cari. Kami berdiri lama tak berpindah, kami tak tersenyum tak pula menggerakkan bibir untuk bicara atau memberi kode, atau memberi uap di jendela kaca dengan nafas kami lalu menulis, “Kau Mey, kan?” atau “Apakah kau Jill?” tidak! Kami hanya diam, menatap, Mey mengeluarkan bahasanya dari bulir air yang jatuh dari pipinya. Aku malu mengatakan bahwa air itu juga tak mampu kubendung. Singkatnya, pertemuan itu membawa kami pada pernikahan. Pernikahan yang membuatku semakin mengenal Mey. Mey, membuat berat badanku menyusut begitu banyak. Mey membuatku di panggil polisi karena mengelap ingus anak orang lain, saat mengantri membayar tagihan air yang berujung pelaporan orang tuanya ke polisi karena ia dicurigai telah mencuri kalung emas bocah itu. Mey, membuatku lari terbirit tanpa alas kaki ke ruang UGD beberapa hari lalu ketika kepalanya yang keras itu terbentur gerobak semangka saat ia membantu nenek tak dikenal di Pasar Keluarga di sekitar kediaman kami. Mey memang keterlaluan, di buku hariannya ia bahkan menulis tentang ku, Suamiku, lelaki brengsek yang ku cintai itu tampak lelah sekali, bocah nakal yang dulu selalu sinis padaku itu, saat ini memperlakukanku seperti bayinya. Diletakkannya kepalaku di atas satu lengannya, lalu ia bernyanyi untukku sebelum tidur. Ah, malam ini dia sudah tertidur duluan! Padahal aku ingin sekali menggodanya dan menjawab pertanyaan lamanya tentang lemang dan garam. Bahwa lemang adalah makanan paling mewah yang pernah dimakan ibu, bahwa rebung adalah makanan paling mudah didapat yang dulu hanya mampu kami makan setiap hari, memakan dua makanan itu, membuatku merasa bahwa ibu selalu bersamaku. Aku bukanya tidak suka garam, namun sedikit menghindar saja, karena dulu keluargaku rasanya sangat asin. Saat tahu ayah meninggalkan kami, aku menangis, dan itu asin. Ibu dilempari anak lain dengan buah pinang, aku juga menangis, dan itu asin. Aku menangis saat di olok-olok anak orang gila, dan itu asin. Melihat garam, membuatku ingat semua itu. Jillbara!? Itulah jawabannya. Kau tahu? Aku mencintaimu karena kau brengsek, selalu menyuapiku makanan bergizi yang takku suka, selalu ingin tahu perasaanku. Aku mencintaimu karena sebetulnya aku juga tak tahu kenapa aku mencintaimu. Jill, Lalu kenapa kau mencintaiku.....?”
Oh, Mey!? Bagaimana mungkin gerobak semangka mampu merenggutmu dariku? Saat kau belum tahu kenapa aku mencintaimu? Mey, aku mencintaimu karena kau itu bodoh, Mei. Bodoh karena kau selalu menjadi juara kelas. Kau bodoh, karena selalu menyalahkan dirimu sendiri atas kematian ibumu dan tak mampu menjaganya. Aku mencintaimu karena kau itu kacau balau dan keras kepala, kau adopsi kucing-kucing jalanan, kau ajak tidur berjama’ah di kamar kita. Kau itu “Hantu Lemang” yang membantu orang lain tanpa berpikir. Mey, bagaimana ini? Aku rindu mengutukmu juga memelukmu...
 Mey...!?
SELESAI
PENULIS : Susri Yunita