Minggu, 14 Januari 2018

November, Kambing Jantan, dan Aku (cerpen)

Hasil gambar untuk gambar kambing jantan sedih
thlegenda.blospot.com

November, seperti sebuah merek dan semacam brand dalam hidupku. Begitu melekat, bak karat yang lekat pada besi tua keramat. Aku, Novea Amber, lahir di bulan November. Mawar, ibu yang melahirkanku juga lahir di bulan yang sama denganku, ia lahir tanggal 16 November. Selain itu, teman-temanku juga banyak yang lahir di bulan ini, bahkan kambing jantanku yang di beri nama Janggut oleh Ibuku juga berulang tahun di bulan November tanggal 5, sama dengan ku.
Meski memiliki hari lahir yang sama dengan seekor kambing jantan, aku tak gaduh, pun pula mengeluh dan yang pasti, hingga saat ini aku masih tetap saja menyukai bulan November. Menurutku, bulan November memiliki banyak sekali ini dan itu, yang tentu sangat ramai di dalamnya, dan ini tentu saja tanpa mengabaikan 11 bulan yang lain.
Berbicara November, rasanya seperti mengunyah cemilan kehidupan itu sendiri. Ada cemilan yang rasanya manis dan sedikit lengket seperti juadah, ada yang gurih dan asin seperti keripik keladi, ada yang pedas seperti kerupuk sanjai, ada juga cemilan dengan cita rasa sedikit pahit seperti emping melinjo, atau cemilan asam seperti nastar dengan selai nanas yang diolah dengan kacau, maksudku seperti yang pernahku buat.
November!
            Selain bulan hujan yang membuat tidurku semakin nyenyak dan nyaman di malam hari, juga adalah bulan musim panen buah-buahan kesukaanku. Ah, tapi itu dulu, saat Alam masih bersahabat baik dan belum di congkak oleh anak manusia yang nakal. Di kampung halamanku, dusun Batu Malau, buah duku masak di awal November. Buahnya yang manis dan sejuk di mulut itu, bisa di petik langsung dari ujung-ujung rantingnya yang menjulai ke bumi, bahkan anak kecil setinggi bayam dan sawi pun, bisa memetik buahnya tanpa harus bersusah payah memanjat.
Buah Durian juga begitu, buah tropis ini, berjatuhan dan membahana di ujung bulan November. Bocah petualang seperti ku, tidak akan berdiam diri saja di rumah saat musim buah berduri ini masak. Sepulang sekolah, atau sebelum pergi ke Madrasah di sore hari, anak-anak di Batu Malau dengan sendirinya berkompetisi mengadang durian peninggalan moyang-moyang tanpa harus mendaftarkan diri dan memiliki panitia lomba.
Mengadang artinya harus menunggu dengan sabar proses terlepasnya si buah durian dari tampuk buahnya. Saat buah berdentum jatuh ke bumi, bocah-bocah siap siaga dan berlari lantang pukang tak peduli sedang terkencing, tak jarang saling himpit dan tersempulit hingga tersungkur ke tanah. Siapa cepat, ia dapat, begitu rumusnya. Namun, tak jarang pula satu buah durian di bagi 7 atau 5 atau bahkan pernah hingga di bagi untuk 11 orang. Hal seperti itu bisa terjadi saat seluruh pengadang memegang satu tampuk durian atau sekedar ikut menyentuh durinya secara bersamaan, untuk menghindari perkelahian dan saling mengklaim diri sebagai pemegang tampuk pertama, maka para pengadang akan berdiskusi, jika tidak ada yang mau mengalah, hasil akhirnya adalah membagi buah itu dengan cara memakan nya bersama-sama. Dengan begitu, bulan November bagi para Pengadang selalu dihabiskan dengan suka cita dan kemeriahan.
Pengalaman menjadi Pengadang di ujung November memang melekat kuat di benak ku hingga detik ini. Saat angin berhembus kencang adalah hal paling seru dan pengalaman paling menyenangkan. Bagaimana tidak, tiupan angin membuat suasana di areana pondok pengadangan menjadi riuah sekaligus menegangkan. Mata dan telinga harus di buka lebar, nutrisi otak juga harus stabil dan tetap dijaga guna menterjemahkan dengan cepat dimana arah jatuhnya si buah berduri. Selain itu, Kekuatan kaki adalah hal yang paling utama diantara semuanya, untuk apalagi kalau bukan untuk berkayuh secepat mungkin lalu menaggkap si raja buah dengan penuh prestasi untuk di bawa pulang sebagai oleh-oleh dari petualangan. Selain untuk di santap langsung oleh anggota keluarga, para ibu juga akan mengawetkannya menjadi panganan permentasi yang bisa dinikmati  selama beberapa bulan atau bahkan hingga musim durian bergulir kembali di tahun berikutnya.
November!
Sekali lagi begitu special bagiku, selain musim panen buah-buahan, ulang tahun kambing jantan ku dan aku, November juga memiliki banyak sekali tanggal-tanggal penting yang diperingati, seperti; 5 November adalah hari cinta Puspa dan Satwa Nasional, 10 November ada hari Pahlawan, 12 November hari Ayah dan Hari Kesehatan Nasional, 14 November hari PRIMOB dan Hari Diabetes Sedunia, 21 Hari Pohon, 22 Hari Perhubungan Darat, 25 Hari Guru, 28 Hari menanam Pohon Indonesia, tanggal 29 Hari KORPRI, dan mungkin masih ada tanggal penting yang belum ku tahu.
Barangkali yang kusebutkan itu agak membosankan, tapi apa daya, naluri kelebaianku sedang ingin membesar-besarkan hal kecil. Berbagi  cerita memalukan ataupun skandal yang terjadi antara aku, kambing jantanku, dan November, adalah satu-satunya hal yang terpikir di musim hujan ini. Ku kira, cerita memalukan ini perlu di perjelas dengan menguraikannya satu persatu.
Begini,
Aku, dan kambing jantanku, si Janggut, sangat terkenal di kampungku. Semua orang membicarakan kami berdua. Mempertanyakan,  bahkan mengherankan kami berdua sampai pada tingkat yang tidak bisa dijelaskan oleh huruf-huruf. Setiap kali pulang kampung, orang-orang selalu berkerumun ingin mewawancaraiku. Ada banyak tipe dan jenis wartawan di kampungku, tipe pertama, adalah mereka yang langsung menyerang. Begitu kepalaku nongol dari tebing sungai dengan tentengan sebuah koper bak artis korea yang sedang di bandara, mereka langsung menyodorkan mulut dengan sebuah basa-basi kuno, “ooo,, masih pulang sendiri ya? Alangkah bagusnya kalau sudah ada pendamping”. Gampang kalau menangani wartawan dengan pertanyaan seperti itu, cukup senyumin, lalu salamin, cium tangan, cium pipi kanan pipi kiri, kasih permen sisa perjalanan, lalu kabur.
Lah yang susahnya adalah tipe kedua, tipe ini adalah tipe yang nekat mengejar sampai dapat. Tak peduli hujan badai, petir melintir, kilat berapi, mereka selalu bisa menyelundup membawa sekarung pertanyaan yang intinya itu-itu saja, “kapan kawin?”, “kapan lagi?”, “nunggu apa lagi?”, “sudah ada calon belum?”, “kamu terlalu pemilih ya?”, “gak pengen? Si A sudah punya anak dua tuh? Si B udah mau beranak lagi tuh?! Si Z udah mau nerima menantu pula tuh, lah kamu?”.
Luar biasa!
Lah aku, sebenarnya sangat berkeinginan menjawabnya satu persatu.
Wartawan A    :  Kapan kawin?
Aku         :  Pasang senyum paling manis, angkat sedikit kaca mata hitam kuju yang dikenakan, beri ruang kedua bola mata untuk menatap si wartawan, lalu berikan kedipan paling lambat dan katakan, “Saya juga tidak tahu, kan bukan Tuhan?! 
Wartawan B    :  Kapan lagi?
Aku                :  Sambil membuka kaca mata hitam, tersenyum, mata melotot, gigi gemeretak,  “hehe.. sama dengan nomor satu, Kakak!”
Wartawan C    :  Nunggu apa lagi?
Aku                 :  Ya nunggu jodoh datang lah! Masa nunggu mati?!
Wartawan D    :  Sudah ada calon belum?
Aku                 :  Lah, kalau sudah ada, dari dulu saya juga sudah kawin!
Wartawan E    :  Kamu terlalu pemilih ya?
Aku              :  Terlalu tidak, memilih iya, terutama harus memilah (yang ini bijak ni,          bagus…!)
Wartawan F    :  Tidak pengen?
Aku                 :  Lailahaillallah! (lalu nyengir dengan sangat khusyuk, hikmat dan bijaksana)

Bagaimana? Keren bukan?
Maklum, aku memang seterkenal itu kalau di kampung. Cara beberapa orang wartawan setengah jadi menyambutku memang di acungi empat jempol saat ku pulang.  Artis drama korea? yaelah, lewat! Atau lebih hebat lagi actor drama KPK? Heuh, apalagi?! Tak ada apa-apanya itu.  Aku lebih meledak dari pada mereka. Aku adalah pemenang penghargaan kategori “perawan terlama” di kampungku, sudah beberapa tahun berturut-turut ini mendapat piala penghargaan tersebut dan menjadi pusat keprihatinan.
Nah, mari tinggalkan sejenak tentang penghargaa-penghargaan ku itu. Sekarang, kambing Jantanku, si janggut. Keterlibatan si Janggut ini dengan kehidupnku, bermula dari beberapa tahun lalu. Saat itu, aku membaca sebuah buku yang berjudul, Panduan Fikih Qurban & Aqiqah, yang di tulis oleh Muhammad Abduh Tuasikal, detailnya lagi, aku membaca bagian terakhir dari daftar isi yaitu tentang “Hukum Aqiqah” bagi orang Muslim.
Berdasarkan bahan bacaan tersebut, aku menelpon ibuku malam itu. Bertanya status aqiqah ku. Jawaban dari ibuku tak terduga. Dan singkat kata, aku belum di aqiqah di usiaku yang hampir berkarat ini. Alasan ibuku adalah karena di masa lalu keadaan ekonomi keluarga dalam kesulitan besar. Waktu itu tepatnya di bulan November tahun 1988 terjadi banjir besar di kampungku karena curah hujan yang sangat tinggi pada waktu itu. Jadi jangankan Aqiqah, aku bahkan lahir di dalam air saat ibuku pindah dari tempat mengungsi satu ke tempat lainnya. Tak terasa, ternyata lahir begitu saja, kata ibuku sambil terkekeh. Aku sempat mendungkal mendengar cerita itu, bukan karena aku lahir di dalam air, tapi karena seluruh adik-adikku yang 6 orang itu telah di aqiqah semua. Alasan Emak ku adalah, karena mereka tidak lahir di bulan-bulan yang berakhiran, “Ber”, jadi tidak banjir, katanya. Aku terdiam, bagaimana bisa Emakku memojokkan ku karena terlahir di bulan November? Kata ku di dalam hati. 
Seketika, aku ingat sesuatu, dan bertanya dengan penuh ancaman pada Emakku, “Mak, kita kan sama-sama lahir di bulan November, nah Emak sudah di aqiqah, belum?” Tanya ku lantang.
Emak ku gelapan, akhirnya dia menjawab, “Sudah!”
“ Alasannya?”
“Dulu, rumah kakek-nenekmu masih rumah panggung dengan tiang menjulang tinggi dan kebetulan terletak di dataran tinggi pula, jadi hujan deras tak mampu membuatnya banjir” jawab Emakku sangat lancar dengan alasannya.
Luar biasa bukan?
Keesokan harinya, aku kembali menelpon Emakku, dengan penuh kesombongan aku mengirimkan sejumlah uang dan memintanya untuk membeli induk kambing bunting di kampung. Emakku terkejut, Ayahku tertawa. Bukan main, mereka keberatan. Emakku menyarankan agar membeli kambing jantan aqiqahan itu secara langsung saja tanpa harus merawat nya dari bayi.
“Syukur-syukur kalau anak kambing itu nanti jantan dan hidup dengan selamat, Na! lah kalau betina?” protes Emakku.
“Tak mungkin betina terus, Mak?” sanggahku. Pokoknya, aku mau kambing betina bunting, bagaimanapun caranya, Emak cari! Emak beli! Ini adalah permintaan penting dari seorang anak yang lupa di aqiqah. Ini sebentuk hukuman bagi kalian berdua, jadi harus merawat kambing jantan untuk Aqiqahan ku dari bayi” kata ku dengan menekankan kalimat terakhir.
“Iya, iya, maaf. Kami sampai lupa hal penting ini” jawabnya.
“Permintaan “Maaf” baru resmi ku terima kalau Emak dan Ayah berhasil merawat kambing itu!” ucap ku tegas, sementara cekikikan Emak ku terdengar jelas di ganggang telepon. Beberapa hari kemudian, giliran Emakku yang menelpon.
“Na! kambingnya sudah dapat!” teriaknya riang.
“Bunting?” sahutku cepat
“Sepertinya tidak, Na” jawab Emak. “Susah menacari yang sedang bunting, yang punya pada sayang semua untuk menjualnya” jawab Emak dengan nada sedikit bersalah. Dan, giliranku yang cekikikan diam-diam.
“Ya sudah lah Mak, apa boleh buat” sahutku dengan nada lesu yang disengaja. Setiap kali terjadi percakapan di telepon, pembicaraan kami tak lepas dari kambing. Bagaimana kabar, atau sudah bunting apa belum. Emakku selalu bilang belum dan belum, dia bilang tubuhnya tidak terlalu besar untuk bunting. Seperti biasa, aku pura-pura kecewa.
Beberapa bulan setelahnya, di subuh buta, Emak menelpon
“Na, kambing mu Na, meleboh!” katanya. Aku terpekik saking senang dan antusiasnya.
“beranak Mak?!”

“Iya! ya ampun Na, sama dengan mu, Na. lahir di bulan November! Jantan, Na!” teriak Emak antusias. Emak bilang tidak bunting, kok bisa beranak?” protesku setelah sadar. Emakku hanya menjawab singkat, “Kami mengerjai mu , Na!” katanya enteng.
Astaga!
Coba lihat kelakuan Emakku, dia mengerjai anaknya dan puas. Namun ku biarkan dia berpikir bahwa dia menang dalam hal menegrjaiku dan semakin hari, semakin membuktikan keberhasilannya menjawab tantanganku dalam mendidik dan merawat kambing jantan itu.
Hampir setiap hari aku mendengarkan laporan mereka dalam mengurus bayi kambing jantan itu. Dari ruang dengar teleponlah aku tahu bagaimana kambing itu tumbuh sangat pintar dan penuh emosi. Emakku bilang, berbeda dengan saudarinya yang lain, kambing jantan yang satu itu, tidak susah mengurusnya. Saat mendengar suara Emakku memanggilnya, “Janggut” saja, ia langsung pulang dari tempat merumputnya (maklum di dusun Batu Malau, hewan ternak masih bebas berkeliaran di sepanjang semak untuk mencari makan). Atau kata Emakku, jika tidak di cari, maka ia akan pulang sendiri, sekitar pukul 4.30 sore, dan akan memanggil-manggil alias mengembek di depan pintu rumah, atau sengaja berkeliling pekarangan rumah untuk di tuntun masuk ke dalam kandang dan menutup pintunya. Jika terlambat, atau belum sempat mengurusnya, si janggut ini akan merajuk dan akan pulang sebelum tengah malam, atau sekitar jam 10 malam.
Aku sering kali tertawa dan terhibur saat mendengar cerita dari Emakku. Meski jarang bertemu, tapi aku cukup tahu diary kambing jantan ku itu. Mengetahui seluk beluk hidupnya adalah hal unik di mataku, menggembirakan mengetahui bagaimana ia masih menjadi seekor bayi kambing yang lucu, lincah, melompat-lompat girang, tidak pernah mencret, dan bagaimana mana tanduk dan janggut nya mulai bertunas dan tumbuh, bagaimana orang-orang tergiur untuk membelinya dengan tujuan yang sama (untuk aqiqahan) hingga sekarang tanduk dan janggutnya sudah berkarat karena usianya yang sudah tua. Akupun tak mampu lagi tertawa.
Di awal- awal pertumbuhan bulu kuduk, tanduk, dan janggutnya yang masih bisa dilihat sebagai sesuatu yang mempesona itu, Emak masih berteriak saat menelponku bahwa si kambing itu memenuhi semua persyaratan untuk di jadikan Aqiqahan. Emak bilang sudah banyak orang yang datang untuk meminangnya dengan harga tinggi. Tapi dengan alasan yang tidak pernah dijelaskan, kedua orang tuaku tentu saja menolak pinangan-pinangan tersebut. Aku pernah berbicara pada mereka agar acara Aqiqahan itu segera di laksanakan tanpa menunggu momen “sebelum pernikahanku”. Tapi Emak tidak bisa di goda, ia menolak mentah-mentah. Aku sedikit bisa mengendus alasannya, ia pasti tidak ingin para wartawan illegal  nan brutal di kampungku kembali riuh dan membuat berita tentang ku dengan judul, “Sudah Tua! Bukannya Gelar Acara Pernikahan, Malah Aqiqahan?!” dengan emoticon kambing menangis di ujung judul beritanya.
Aku merasa iba pada Emak dan Ayahku, dan merasa bersalah pada Kambing jantanku, si janggut. Bagaimana bisa aku menang mengerjai orang tuaku begitu lama? Bagaimana aku membuat terlantar hidup si janggut hanya demi menungguku.
“Waduh…! Emak nya, Na?! Nunggu apa lagi tu yang bertanduk panjang itu? Gak di jual? Kasihan sudah tua begitu! Untuk koleksi ya? Nanti keburu di jemput maling loh?! Akhir-akhir ini lagi banyak yang kehilangan kambing”  salah satu wartawan melaksanakan tugasnya di suatu pagi.
Ya begitulah, komentar pedas pun tak luput di alami oleh Emakku yang tak bersalah dan si Janggut, yang tak tahu apa-apa itu. Demikianlah skandal kami; aku dan Si Janggut, kambing jantanku, yang 5 November 2017 kemarin, judul berita tentang kami seharusnya begini,
Perawan 30 Tahun vs Kambing Jantan Membujang 4 tahun.
Isi beritanya adalah sebuah pesan dari Kambing jantan:
Bagi para wartawan illegal yang ku hormati dimanapun berada. Aku ingin berpesan, bahwa, jangan terlalu bergembira karena telah menghabiskan waktu memikirkan orang lain, kambing orang lain, ayam orang lain, apalagi sampai mengurusi hewan melata. Jangan merasa lega karena mampu berbisik tentang orang lain, anak orang lain, ibu, mertua, menantu orang lain. Apalagi sampai terbirit menggali aib, kekurangan dan menelan makanan tak mengenyangkan lainnya.
Jangan merasa menang hanya karena mereka malas untuk membalas dan melakukan hal yang sama.
Kenapa? karena kelemahan dari seseoragng atau seekor binatang, bukan hanya satu atau dua, yang tidak kalian ketahui itu banyak sekali, berlipat ganda. Maka, sebagai seekor binatang yang merasa prihatin, aku ingin bertanya, “Berapa banyak waktukah yang akan kalian sia-sia kan untuk mengurusi orang lain termasuk hewan ternaknya, di kehidupan yang singkat ini?
Tak dijawabpun taka pa-apa.
Terima kasih, aku si janggut, seekor kambing jantan yang setia.
---SELESAI---

 penulis: Susri Yunita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar