November, Kambing Jantan, dan Aku (cerpen)
| thlegenda.blospot.com |
November,
seperti sebuah merek dan semacam brand
dalam hidupku. Begitu melekat, bak karat yang lekat pada besi tua keramat. Aku,
Novea Amber, lahir di bulan November.
Mawar, ibu
yang melahirkanku juga lahir di bulan yang sama denganku, ia lahir tanggal 16 November. Selain itu, teman-temanku
juga banyak yang lahir di bulan ini, bahkan kambing jantanku yang di beri nama
Janggut oleh Ibuku juga berulang tahun di bulan November tanggal 5, sama dengan
ku.
Meski
memiliki hari lahir yang sama dengan seekor kambing jantan, aku tak gaduh, pun pula mengeluh dan yang pasti, hingga saat ini aku
masih tetap saja menyukai bulan November. Menurutku, bulan November memiliki
banyak sekali ini dan itu, yang tentu sangat ramai di dalamnya, dan ini tentu saja tanpa mengabaikan 11
bulan yang lain.
Berbicara
November, rasanya seperti mengunyah cemilan kehidupan itu sendiri. Ada cemilan
yang rasanya manis dan sedikit lengket seperti juadah, ada yang gurih dan asin seperti keripik keladi, ada yang
pedas seperti kerupuk sanjai, ada
juga cemilan dengan cita rasa sedikit pahit seperti emping melinjo, atau
cemilan asam seperti nastar dengan
selai nanas yang diolah dengan kacau, maksudku seperti yang pernahku buat.
November!
Selain bulan hujan yang membuat tidurku semakin nyenyak dan nyaman di malam hari, juga adalah bulan musim panen buah-buahan kesukaanku. Ah, tapi itu dulu, saat Alam masih bersahabat baik dan belum di congkak oleh anak manusia yang nakal. Di kampung halamanku, dusun Batu Malau, buah duku masak di awal November. Buahnya yang manis dan sejuk di mulut itu, bisa di petik langsung dari ujung-ujung rantingnya yang menjulai ke bumi, bahkan anak kecil setinggi bayam dan sawi pun, bisa memetik buahnya tanpa harus bersusah payah memanjat.
Selain bulan hujan yang membuat tidurku semakin nyenyak dan nyaman di malam hari, juga adalah bulan musim panen buah-buahan kesukaanku. Ah, tapi itu dulu, saat Alam masih bersahabat baik dan belum di congkak oleh anak manusia yang nakal. Di kampung halamanku, dusun Batu Malau, buah duku masak di awal November. Buahnya yang manis dan sejuk di mulut itu, bisa di petik langsung dari ujung-ujung rantingnya yang menjulai ke bumi, bahkan anak kecil setinggi bayam dan sawi pun, bisa memetik buahnya tanpa harus bersusah payah memanjat.
Buah
Durian juga begitu, buah tropis ini, berjatuhan dan membahana di ujung bulan
November. Bocah petualang seperti ku, tidak akan berdiam diri saja di rumah
saat musim buah berduri ini masak. Sepulang sekolah, atau sebelum pergi ke
Madrasah di sore hari, anak-anak di Batu Malau dengan sendirinya berkompetisi mengadang durian peninggalan
moyang-moyang tanpa harus mendaftarkan diri dan memiliki panitia lomba.
Mengadang artinya harus menunggu dengan sabar proses
terlepasnya si buah durian dari tampuk buahnya. Saat buah berdentum jatuh ke
bumi, bocah-bocah siap siaga dan berlari lantang pukang tak peduli sedang
terkencing, tak jarang saling himpit dan tersempulit hingga tersungkur ke
tanah. Siapa cepat, ia dapat, begitu rumusnya. Namun, tak jarang pula satu buah
durian di bagi 7 atau 5 atau bahkan pernah hingga di bagi untuk 11 orang. Hal
seperti itu bisa terjadi saat seluruh pengadang
memegang satu tampuk durian atau sekedar ikut menyentuh durinya secara
bersamaan, untuk menghindari perkelahian dan saling mengklaim diri sebagai
pemegang tampuk pertama, maka para pengadang
akan berdiskusi, jika tidak ada yang mau mengalah, hasil akhirnya adalah
membagi buah itu dengan cara memakan nya bersama-sama. Dengan begitu, bulan
November bagi para Pengadang selalu
dihabiskan dengan suka cita dan kemeriahan.
Pengalaman
menjadi Pengadang di ujung November
memang melekat kuat di benak ku hingga detik ini. Saat angin berhembus kencang
adalah hal paling seru dan pengalaman paling menyenangkan. Bagaimana tidak,
tiupan angin membuat suasana di areana pondok
pengadangan menjadi riuah sekaligus menegangkan. Mata dan telinga harus di
buka lebar, nutrisi otak juga harus stabil dan tetap dijaga guna menterjemahkan
dengan cepat dimana arah jatuhnya si buah berduri. Selain itu, Kekuatan kaki
adalah hal yang paling utama diantara semuanya, untuk apalagi kalau bukan untuk
berkayuh secepat mungkin lalu menaggkap si raja buah dengan penuh prestasi
untuk di bawa pulang sebagai oleh-oleh dari petualangan. Selain untuk di santap
langsung oleh anggota keluarga, para ibu juga akan mengawetkannya menjadi
panganan permentasi yang bisa dinikmati
selama beberapa bulan atau bahkan hingga musim durian bergulir kembali
di tahun berikutnya.
November!
Sekali
lagi begitu special bagiku, selain musim panen buah-buahan, ulang tahun kambing
jantan ku dan aku, November juga memiliki banyak sekali tanggal-tanggal penting
yang diperingati, seperti; 5 November adalah hari cinta Puspa dan Satwa
Nasional, 10 November ada hari Pahlawan, 12 November hari Ayah dan Hari
Kesehatan Nasional, 14 November hari PRIMOB dan Hari Diabetes Sedunia, 21 Hari
Pohon, 22 Hari Perhubungan Darat, 25 Hari Guru, 28 Hari menanam Pohon
Indonesia, tanggal 29 Hari KORPRI, dan mungkin masih ada tanggal penting yang
belum ku tahu.
Barangkali
yang kusebutkan itu agak membosankan, tapi apa daya, naluri kelebaianku sedang
ingin membesar-besarkan hal kecil. Berbagi
cerita memalukan ataupun skandal yang terjadi antara aku, kambing
jantanku, dan November, adalah satu-satunya hal yang terpikir di musim hujan
ini. Ku kira, cerita memalukan ini perlu di perjelas dengan menguraikannya satu
persatu.
Begini,
Aku,
dan kambing jantanku, si Janggut, sangat terkenal di kampungku. Semua orang
membicarakan kami berdua. Mempertanyakan,
bahkan mengherankan kami berdua sampai pada tingkat yang tidak bisa
dijelaskan oleh huruf-huruf. Setiap kali pulang kampung, orang-orang selalu
berkerumun ingin mewawancaraiku. Ada banyak tipe dan jenis wartawan di
kampungku, tipe pertama, adalah mereka yang langsung menyerang. Begitu kepalaku
nongol dari tebing sungai dengan tentengan sebuah koper bak artis korea yang
sedang di bandara, mereka langsung menyodorkan mulut dengan sebuah basa-basi
kuno, “ooo,, masih pulang sendiri ya? Alangkah bagusnya kalau sudah ada
pendamping”. Gampang kalau menangani wartawan dengan pertanyaan seperti itu,
cukup senyumin, lalu salamin, cium tangan, cium pipi kanan pipi kiri, kasih
permen sisa perjalanan, lalu kabur.
Lah
yang susahnya adalah tipe kedua, tipe ini adalah tipe yang nekat mengejar
sampai dapat. Tak peduli hujan badai, petir melintir, kilat berapi, mereka
selalu bisa menyelundup membawa sekarung pertanyaan yang intinya itu-itu saja,
“kapan kawin?”, “kapan lagi?”, “nunggu apa lagi?”, “sudah ada calon belum?”,
“kamu terlalu pemilih ya?”, “gak pengen? Si A sudah punya anak dua tuh? Si B
udah mau beranak lagi tuh?! Si Z udah mau nerima menantu pula tuh, lah kamu?”.
Luar
biasa!
Lah
aku, sebenarnya sangat berkeinginan menjawabnya satu persatu.
Wartawan
A : Kapan kawin?
Aku : Pasang senyum paling manis, angkat sedikit
kaca mata hitam kuju yang dikenakan,
beri ruang kedua bola mata untuk menatap si wartawan, lalu berikan kedipan
paling lambat dan katakan, “Saya juga tidak tahu, kan bukan Tuhan?!
Wartawan
B : Kapan lagi?
Aku : Sambil membuka kaca mata hitam, tersenyum,
mata melotot, gigi gemeretak, “hehe..
sama dengan nomor satu, Kakak!”
Wartawan C : Nunggu apa lagi?
Aku : Ya nunggu jodoh datang lah! Masa nunggu
mati?!
Wartawan
D : Sudah ada calon belum?
Aku : Lah, kalau sudah ada, dari dulu saya juga
sudah kawin!
Wartawan E : Kamu terlalu pemilih ya?
Aku : Terlalu tidak, memilih iya, terutama harus
memilah (yang ini bijak ni, bagus…!)
Wartawan F : Tidak pengen?
Aku : Lailahaillallah! (lalu nyengir dengan sangat khusyuk, hikmat dan
bijaksana)
Bagaimana?
Keren bukan?
Maklum,
aku memang seterkenal itu kalau di kampung. Cara beberapa orang wartawan
setengah jadi menyambutku memang di acungi empat jempol saat ku pulang. Artis drama korea? yaelah, lewat! Atau lebih
hebat lagi actor drama KPK? Heuh, apalagi?! Tak ada apa-apanya itu. Aku lebih meledak dari pada mereka. Aku
adalah pemenang penghargaan kategori “perawan terlama” di kampungku, sudah
beberapa tahun berturut-turut ini mendapat piala penghargaan tersebut dan
menjadi pusat keprihatinan.
Nah,
mari tinggalkan sejenak tentang penghargaa-penghargaan ku itu. Sekarang,
kambing Jantanku, si janggut. Keterlibatan si Janggut ini dengan kehidupnku,
bermula dari beberapa tahun lalu. Saat itu, aku membaca sebuah buku yang
berjudul, Panduan Fikih Qurban & Aqiqah, yang di tulis oleh Muhammad Abduh
Tuasikal, detailnya lagi, aku membaca bagian terakhir dari daftar isi
yaitu tentang “Hukum Aqiqah” bagi orang Muslim.
Berdasarkan
bahan bacaan tersebut, aku menelpon ibuku malam itu. Bertanya status aqiqah ku. Jawaban dari ibuku tak
terduga. Dan singkat kata, aku belum di aqiqah di usiaku yang hampir berkarat
ini. Alasan ibuku adalah karena di masa lalu keadaan ekonomi keluarga dalam
kesulitan besar. Waktu itu tepatnya di bulan November tahun 1988 terjadi banjir
besar di kampungku karena curah hujan yang sangat tinggi pada waktu itu. Jadi
jangankan Aqiqah, aku bahkan lahir di dalam air saat ibuku pindah dari tempat
mengungsi satu ke tempat lainnya. Tak terasa, ternyata lahir begitu saja, kata
ibuku sambil terkekeh. Aku sempat mendungkal
mendengar cerita itu, bukan karena aku lahir di dalam air, tapi karena seluruh
adik-adikku yang 6 orang itu telah di aqiqah
semua. Alasan Emak ku adalah, karena mereka tidak lahir di bulan-bulan yang
berakhiran, “Ber”, jadi tidak banjir, katanya. Aku terdiam, bagaimana bisa
Emakku memojokkan ku karena terlahir di bulan November? Kata ku di dalam hati.
Seketika,
aku ingat sesuatu, dan bertanya dengan penuh ancaman pada Emakku, “Mak, kita
kan sama-sama lahir di bulan November, nah Emak sudah di aqiqah, belum?” Tanya
ku lantang.
Emak
ku gelapan, akhirnya dia menjawab, “Sudah!”
“
Alasannya?”
“Dulu,
rumah kakek-nenekmu masih rumah panggung dengan tiang menjulang tinggi dan
kebetulan terletak di dataran tinggi pula, jadi hujan deras tak mampu
membuatnya banjir” jawab Emakku sangat lancar dengan alasannya.
Luar
biasa bukan?
Keesokan
harinya, aku kembali menelpon Emakku, dengan penuh kesombongan aku mengirimkan
sejumlah uang dan memintanya untuk membeli induk kambing bunting di kampung.
Emakku terkejut, Ayahku tertawa. Bukan main, mereka keberatan. Emakku
menyarankan agar membeli kambing jantan aqiqahan itu secara langsung saja tanpa
harus merawat nya dari bayi.
“Syukur-syukur
kalau anak kambing itu nanti jantan dan hidup dengan selamat, Na! lah kalau
betina?” protes Emakku.
“Tak
mungkin betina terus, Mak?” sanggahku. Pokoknya, aku mau kambing betina
bunting, bagaimanapun caranya, Emak cari! Emak beli! Ini adalah permintaan
penting dari seorang anak yang lupa di aqiqah. Ini sebentuk hukuman bagi kalian
berdua, jadi harus merawat kambing jantan untuk Aqiqahan ku dari bayi” kata ku
dengan menekankan kalimat terakhir.
“Iya,
iya, maaf. Kami sampai lupa hal penting ini” jawabnya.
“Permintaan
“Maaf” baru resmi ku terima kalau Emak dan Ayah berhasil merawat kambing itu!”
ucap ku tegas, sementara cekikikan Emak ku terdengar jelas di ganggang telepon.
Beberapa hari kemudian, giliran Emakku yang menelpon.
“Na!
kambingnya sudah dapat!” teriaknya riang.
“Bunting?”
sahutku cepat
“Sepertinya
tidak, Na” jawab Emak. “Susah menacari yang sedang bunting, yang punya pada
sayang semua untuk menjualnya” jawab Emak dengan nada sedikit bersalah. Dan,
giliranku yang cekikikan diam-diam.
“Ya
sudah lah Mak, apa boleh buat” sahutku dengan nada lesu yang disengaja. Setiap
kali terjadi percakapan di telepon, pembicaraan kami tak lepas dari kambing.
Bagaimana kabar, atau sudah bunting apa belum. Emakku selalu bilang belum dan
belum, dia bilang tubuhnya tidak terlalu besar untuk bunting. Seperti biasa,
aku pura-pura kecewa.
Beberapa
bulan setelahnya, di subuh buta, Emak menelpon
“Na,
kambing mu Na, meleboh!” katanya. Aku
terpekik saking senang dan antusiasnya.
“beranak
Mak?!”
“Iya!
ya ampun Na, sama dengan mu, Na. lahir di bulan November! Jantan, Na!” teriak
Emak antusias. Emak bilang tidak bunting, kok bisa beranak?” protesku setelah
sadar. Emakku hanya menjawab singkat, “Kami mengerjai mu , Na!” katanya enteng.
Astaga!
Coba
lihat kelakuan Emakku, dia mengerjai anaknya dan puas. Namun ku biarkan dia berpikir
bahwa dia menang dalam hal menegrjaiku dan semakin hari, semakin membuktikan
keberhasilannya menjawab tantanganku dalam mendidik dan merawat kambing jantan
itu.
Hampir
setiap hari aku mendengarkan laporan mereka dalam mengurus bayi kambing jantan
itu. Dari ruang dengar teleponlah aku tahu bagaimana kambing itu tumbuh sangat
pintar dan penuh emosi. Emakku bilang, berbeda dengan saudarinya yang lain,
kambing jantan yang satu itu, tidak susah mengurusnya. Saat mendengar suara
Emakku memanggilnya, “Janggut” saja, ia langsung pulang dari tempat merumputnya
(maklum di dusun Batu Malau, hewan ternak masih bebas berkeliaran di sepanjang
semak untuk mencari makan). Atau kata Emakku, jika tidak di cari, maka ia akan
pulang sendiri, sekitar pukul 4.30 sore, dan akan memanggil-manggil alias
mengembek di depan pintu rumah, atau sengaja berkeliling pekarangan rumah untuk
di tuntun masuk ke dalam kandang dan menutup pintunya. Jika terlambat, atau
belum sempat mengurusnya, si janggut ini akan merajuk dan akan pulang sebelum
tengah malam, atau sekitar jam 10 malam.
Aku
sering kali tertawa dan terhibur saat mendengar cerita dari Emakku. Meski
jarang bertemu, tapi aku cukup tahu diary
kambing jantan ku itu. Mengetahui seluk beluk hidupnya adalah hal unik di
mataku, menggembirakan mengetahui bagaimana ia masih menjadi seekor bayi
kambing yang lucu, lincah, melompat-lompat girang, tidak pernah mencret, dan
bagaimana mana tanduk dan janggut nya mulai bertunas dan tumbuh, bagaimana
orang-orang tergiur untuk membelinya dengan tujuan yang sama (untuk aqiqahan)
hingga sekarang tanduk dan janggutnya sudah berkarat karena usianya yang sudah
tua. Akupun tak mampu lagi tertawa.
Di
awal- awal pertumbuhan bulu kuduk, tanduk, dan janggutnya yang masih bisa dilihat
sebagai sesuatu yang mempesona itu, Emak masih berteriak saat menelponku bahwa
si kambing itu memenuhi semua persyaratan untuk di jadikan Aqiqahan. Emak
bilang sudah banyak orang yang datang untuk meminangnya dengan harga tinggi.
Tapi dengan alasan yang tidak pernah dijelaskan, kedua orang tuaku tentu saja
menolak pinangan-pinangan tersebut. Aku pernah berbicara pada mereka agar acara
Aqiqahan itu segera di laksanakan tanpa menunggu momen “sebelum pernikahanku”.
Tapi Emak tidak bisa di goda, ia menolak mentah-mentah. Aku sedikit bisa
mengendus alasannya, ia pasti tidak ingin para wartawan illegal nan brutal di
kampungku kembali riuh dan membuat berita tentang ku dengan judul, “Sudah Tua!
Bukannya Gelar Acara Pernikahan, Malah Aqiqahan?!” dengan emoticon kambing
menangis di ujung judul beritanya.
Aku
merasa iba pada Emak dan Ayahku, dan merasa bersalah pada Kambing jantanku, si
janggut. Bagaimana bisa aku menang mengerjai orang tuaku begitu lama? Bagaimana
aku membuat terlantar hidup si janggut hanya demi menungguku.
“Waduh…!
Emak nya, Na?! Nunggu apa lagi tu yang bertanduk panjang itu? Gak di jual?
Kasihan sudah tua begitu! Untuk koleksi ya? Nanti keburu di jemput maling loh?!
Akhir-akhir ini lagi banyak yang kehilangan kambing” salah satu wartawan melaksanakan tugasnya di
suatu pagi.
Ya
begitulah, komentar pedas pun tak luput di alami oleh Emakku yang tak bersalah
dan si Janggut, yang tak tahu apa-apa itu. Demikianlah skandal kami; aku dan Si
Janggut, kambing jantanku, yang 5 November 2017 kemarin, judul berita tentang
kami seharusnya begini,
Perawan 30 Tahun vs Kambing Jantan
Membujang 4 tahun.
Isi
beritanya adalah sebuah pesan dari Kambing jantan:
Bagi para wartawan
illegal yang ku hormati dimanapun berada. Aku ingin berpesan, bahwa, jangan
terlalu bergembira karena telah menghabiskan waktu memikirkan orang lain,
kambing orang lain, ayam orang lain, apalagi sampai mengurusi hewan melata.
Jangan merasa lega karena mampu berbisik tentang orang lain, anak orang lain,
ibu, mertua, menantu orang lain. Apalagi sampai terbirit menggali aib,
kekurangan dan menelan makanan tak mengenyangkan lainnya.
Jangan merasa menang
hanya karena mereka malas untuk membalas dan melakukan hal yang sama.
Kenapa? karena
kelemahan dari seseoragng atau seekor binatang, bukan hanya satu atau dua, yang
tidak kalian ketahui itu banyak sekali, berlipat ganda. Maka, sebagai seekor
binatang yang merasa prihatin, aku ingin bertanya, “Berapa banyak waktukah yang
akan kalian sia-sia kan untuk mengurusi orang lain termasuk hewan ternaknya, di
kehidupan yang singkat ini?
Tak dijawabpun taka
pa-apa.
Terima kasih, aku si
janggut, seekor kambing jantan yang setia.
---SELESAI---