Minggu, 14 Januari 2018

November, Kambing Jantan, dan Aku (cerpen)

Hasil gambar untuk gambar kambing jantan sedih
thlegenda.blospot.com

November, seperti sebuah merek dan semacam brand dalam hidupku. Begitu melekat, bak karat yang lekat pada besi tua keramat. Aku, Novea Amber, lahir di bulan November. Mawar, ibu yang melahirkanku juga lahir di bulan yang sama denganku, ia lahir tanggal 16 November. Selain itu, teman-temanku juga banyak yang lahir di bulan ini, bahkan kambing jantanku yang di beri nama Janggut oleh Ibuku juga berulang tahun di bulan November tanggal 5, sama dengan ku.
Meski memiliki hari lahir yang sama dengan seekor kambing jantan, aku tak gaduh, pun pula mengeluh dan yang pasti, hingga saat ini aku masih tetap saja menyukai bulan November. Menurutku, bulan November memiliki banyak sekali ini dan itu, yang tentu sangat ramai di dalamnya, dan ini tentu saja tanpa mengabaikan 11 bulan yang lain.
Berbicara November, rasanya seperti mengunyah cemilan kehidupan itu sendiri. Ada cemilan yang rasanya manis dan sedikit lengket seperti juadah, ada yang gurih dan asin seperti keripik keladi, ada yang pedas seperti kerupuk sanjai, ada juga cemilan dengan cita rasa sedikit pahit seperti emping melinjo, atau cemilan asam seperti nastar dengan selai nanas yang diolah dengan kacau, maksudku seperti yang pernahku buat.
November!
            Selain bulan hujan yang membuat tidurku semakin nyenyak dan nyaman di malam hari, juga adalah bulan musim panen buah-buahan kesukaanku. Ah, tapi itu dulu, saat Alam masih bersahabat baik dan belum di congkak oleh anak manusia yang nakal. Di kampung halamanku, dusun Batu Malau, buah duku masak di awal November. Buahnya yang manis dan sejuk di mulut itu, bisa di petik langsung dari ujung-ujung rantingnya yang menjulai ke bumi, bahkan anak kecil setinggi bayam dan sawi pun, bisa memetik buahnya tanpa harus bersusah payah memanjat.
Buah Durian juga begitu, buah tropis ini, berjatuhan dan membahana di ujung bulan November. Bocah petualang seperti ku, tidak akan berdiam diri saja di rumah saat musim buah berduri ini masak. Sepulang sekolah, atau sebelum pergi ke Madrasah di sore hari, anak-anak di Batu Malau dengan sendirinya berkompetisi mengadang durian peninggalan moyang-moyang tanpa harus mendaftarkan diri dan memiliki panitia lomba.
Mengadang artinya harus menunggu dengan sabar proses terlepasnya si buah durian dari tampuk buahnya. Saat buah berdentum jatuh ke bumi, bocah-bocah siap siaga dan berlari lantang pukang tak peduli sedang terkencing, tak jarang saling himpit dan tersempulit hingga tersungkur ke tanah. Siapa cepat, ia dapat, begitu rumusnya. Namun, tak jarang pula satu buah durian di bagi 7 atau 5 atau bahkan pernah hingga di bagi untuk 11 orang. Hal seperti itu bisa terjadi saat seluruh pengadang memegang satu tampuk durian atau sekedar ikut menyentuh durinya secara bersamaan, untuk menghindari perkelahian dan saling mengklaim diri sebagai pemegang tampuk pertama, maka para pengadang akan berdiskusi, jika tidak ada yang mau mengalah, hasil akhirnya adalah membagi buah itu dengan cara memakan nya bersama-sama. Dengan begitu, bulan November bagi para Pengadang selalu dihabiskan dengan suka cita dan kemeriahan.
Pengalaman menjadi Pengadang di ujung November memang melekat kuat di benak ku hingga detik ini. Saat angin berhembus kencang adalah hal paling seru dan pengalaman paling menyenangkan. Bagaimana tidak, tiupan angin membuat suasana di areana pondok pengadangan menjadi riuah sekaligus menegangkan. Mata dan telinga harus di buka lebar, nutrisi otak juga harus stabil dan tetap dijaga guna menterjemahkan dengan cepat dimana arah jatuhnya si buah berduri. Selain itu, Kekuatan kaki adalah hal yang paling utama diantara semuanya, untuk apalagi kalau bukan untuk berkayuh secepat mungkin lalu menaggkap si raja buah dengan penuh prestasi untuk di bawa pulang sebagai oleh-oleh dari petualangan. Selain untuk di santap langsung oleh anggota keluarga, para ibu juga akan mengawetkannya menjadi panganan permentasi yang bisa dinikmati  selama beberapa bulan atau bahkan hingga musim durian bergulir kembali di tahun berikutnya.
November!
Sekali lagi begitu special bagiku, selain musim panen buah-buahan, ulang tahun kambing jantan ku dan aku, November juga memiliki banyak sekali tanggal-tanggal penting yang diperingati, seperti; 5 November adalah hari cinta Puspa dan Satwa Nasional, 10 November ada hari Pahlawan, 12 November hari Ayah dan Hari Kesehatan Nasional, 14 November hari PRIMOB dan Hari Diabetes Sedunia, 21 Hari Pohon, 22 Hari Perhubungan Darat, 25 Hari Guru, 28 Hari menanam Pohon Indonesia, tanggal 29 Hari KORPRI, dan mungkin masih ada tanggal penting yang belum ku tahu.
Barangkali yang kusebutkan itu agak membosankan, tapi apa daya, naluri kelebaianku sedang ingin membesar-besarkan hal kecil. Berbagi  cerita memalukan ataupun skandal yang terjadi antara aku, kambing jantanku, dan November, adalah satu-satunya hal yang terpikir di musim hujan ini. Ku kira, cerita memalukan ini perlu di perjelas dengan menguraikannya satu persatu.
Begini,
Aku, dan kambing jantanku, si Janggut, sangat terkenal di kampungku. Semua orang membicarakan kami berdua. Mempertanyakan,  bahkan mengherankan kami berdua sampai pada tingkat yang tidak bisa dijelaskan oleh huruf-huruf. Setiap kali pulang kampung, orang-orang selalu berkerumun ingin mewawancaraiku. Ada banyak tipe dan jenis wartawan di kampungku, tipe pertama, adalah mereka yang langsung menyerang. Begitu kepalaku nongol dari tebing sungai dengan tentengan sebuah koper bak artis korea yang sedang di bandara, mereka langsung menyodorkan mulut dengan sebuah basa-basi kuno, “ooo,, masih pulang sendiri ya? Alangkah bagusnya kalau sudah ada pendamping”. Gampang kalau menangani wartawan dengan pertanyaan seperti itu, cukup senyumin, lalu salamin, cium tangan, cium pipi kanan pipi kiri, kasih permen sisa perjalanan, lalu kabur.
Lah yang susahnya adalah tipe kedua, tipe ini adalah tipe yang nekat mengejar sampai dapat. Tak peduli hujan badai, petir melintir, kilat berapi, mereka selalu bisa menyelundup membawa sekarung pertanyaan yang intinya itu-itu saja, “kapan kawin?”, “kapan lagi?”, “nunggu apa lagi?”, “sudah ada calon belum?”, “kamu terlalu pemilih ya?”, “gak pengen? Si A sudah punya anak dua tuh? Si B udah mau beranak lagi tuh?! Si Z udah mau nerima menantu pula tuh, lah kamu?”.
Luar biasa!
Lah aku, sebenarnya sangat berkeinginan menjawabnya satu persatu.
Wartawan A    :  Kapan kawin?
Aku         :  Pasang senyum paling manis, angkat sedikit kaca mata hitam kuju yang dikenakan, beri ruang kedua bola mata untuk menatap si wartawan, lalu berikan kedipan paling lambat dan katakan, “Saya juga tidak tahu, kan bukan Tuhan?! 
Wartawan B    :  Kapan lagi?
Aku                :  Sambil membuka kaca mata hitam, tersenyum, mata melotot, gigi gemeretak,  “hehe.. sama dengan nomor satu, Kakak!”
Wartawan C    :  Nunggu apa lagi?
Aku                 :  Ya nunggu jodoh datang lah! Masa nunggu mati?!
Wartawan D    :  Sudah ada calon belum?
Aku                 :  Lah, kalau sudah ada, dari dulu saya juga sudah kawin!
Wartawan E    :  Kamu terlalu pemilih ya?
Aku              :  Terlalu tidak, memilih iya, terutama harus memilah (yang ini bijak ni,          bagus…!)
Wartawan F    :  Tidak pengen?
Aku                 :  Lailahaillallah! (lalu nyengir dengan sangat khusyuk, hikmat dan bijaksana)

Bagaimana? Keren bukan?
Maklum, aku memang seterkenal itu kalau di kampung. Cara beberapa orang wartawan setengah jadi menyambutku memang di acungi empat jempol saat ku pulang.  Artis drama korea? yaelah, lewat! Atau lebih hebat lagi actor drama KPK? Heuh, apalagi?! Tak ada apa-apanya itu.  Aku lebih meledak dari pada mereka. Aku adalah pemenang penghargaan kategori “perawan terlama” di kampungku, sudah beberapa tahun berturut-turut ini mendapat piala penghargaan tersebut dan menjadi pusat keprihatinan.
Nah, mari tinggalkan sejenak tentang penghargaa-penghargaan ku itu. Sekarang, kambing Jantanku, si janggut. Keterlibatan si Janggut ini dengan kehidupnku, bermula dari beberapa tahun lalu. Saat itu, aku membaca sebuah buku yang berjudul, Panduan Fikih Qurban & Aqiqah, yang di tulis oleh Muhammad Abduh Tuasikal, detailnya lagi, aku membaca bagian terakhir dari daftar isi yaitu tentang “Hukum Aqiqah” bagi orang Muslim.
Berdasarkan bahan bacaan tersebut, aku menelpon ibuku malam itu. Bertanya status aqiqah ku. Jawaban dari ibuku tak terduga. Dan singkat kata, aku belum di aqiqah di usiaku yang hampir berkarat ini. Alasan ibuku adalah karena di masa lalu keadaan ekonomi keluarga dalam kesulitan besar. Waktu itu tepatnya di bulan November tahun 1988 terjadi banjir besar di kampungku karena curah hujan yang sangat tinggi pada waktu itu. Jadi jangankan Aqiqah, aku bahkan lahir di dalam air saat ibuku pindah dari tempat mengungsi satu ke tempat lainnya. Tak terasa, ternyata lahir begitu saja, kata ibuku sambil terkekeh. Aku sempat mendungkal mendengar cerita itu, bukan karena aku lahir di dalam air, tapi karena seluruh adik-adikku yang 6 orang itu telah di aqiqah semua. Alasan Emak ku adalah, karena mereka tidak lahir di bulan-bulan yang berakhiran, “Ber”, jadi tidak banjir, katanya. Aku terdiam, bagaimana bisa Emakku memojokkan ku karena terlahir di bulan November? Kata ku di dalam hati. 
Seketika, aku ingat sesuatu, dan bertanya dengan penuh ancaman pada Emakku, “Mak, kita kan sama-sama lahir di bulan November, nah Emak sudah di aqiqah, belum?” Tanya ku lantang.
Emak ku gelapan, akhirnya dia menjawab, “Sudah!”
“ Alasannya?”
“Dulu, rumah kakek-nenekmu masih rumah panggung dengan tiang menjulang tinggi dan kebetulan terletak di dataran tinggi pula, jadi hujan deras tak mampu membuatnya banjir” jawab Emakku sangat lancar dengan alasannya.
Luar biasa bukan?
Keesokan harinya, aku kembali menelpon Emakku, dengan penuh kesombongan aku mengirimkan sejumlah uang dan memintanya untuk membeli induk kambing bunting di kampung. Emakku terkejut, Ayahku tertawa. Bukan main, mereka keberatan. Emakku menyarankan agar membeli kambing jantan aqiqahan itu secara langsung saja tanpa harus merawat nya dari bayi.
“Syukur-syukur kalau anak kambing itu nanti jantan dan hidup dengan selamat, Na! lah kalau betina?” protes Emakku.
“Tak mungkin betina terus, Mak?” sanggahku. Pokoknya, aku mau kambing betina bunting, bagaimanapun caranya, Emak cari! Emak beli! Ini adalah permintaan penting dari seorang anak yang lupa di aqiqah. Ini sebentuk hukuman bagi kalian berdua, jadi harus merawat kambing jantan untuk Aqiqahan ku dari bayi” kata ku dengan menekankan kalimat terakhir.
“Iya, iya, maaf. Kami sampai lupa hal penting ini” jawabnya.
“Permintaan “Maaf” baru resmi ku terima kalau Emak dan Ayah berhasil merawat kambing itu!” ucap ku tegas, sementara cekikikan Emak ku terdengar jelas di ganggang telepon. Beberapa hari kemudian, giliran Emakku yang menelpon.
“Na! kambingnya sudah dapat!” teriaknya riang.
“Bunting?” sahutku cepat
“Sepertinya tidak, Na” jawab Emak. “Susah menacari yang sedang bunting, yang punya pada sayang semua untuk menjualnya” jawab Emak dengan nada sedikit bersalah. Dan, giliranku yang cekikikan diam-diam.
“Ya sudah lah Mak, apa boleh buat” sahutku dengan nada lesu yang disengaja. Setiap kali terjadi percakapan di telepon, pembicaraan kami tak lepas dari kambing. Bagaimana kabar, atau sudah bunting apa belum. Emakku selalu bilang belum dan belum, dia bilang tubuhnya tidak terlalu besar untuk bunting. Seperti biasa, aku pura-pura kecewa.
Beberapa bulan setelahnya, di subuh buta, Emak menelpon
“Na, kambing mu Na, meleboh!” katanya. Aku terpekik saking senang dan antusiasnya.
“beranak Mak?!”

“Iya! ya ampun Na, sama dengan mu, Na. lahir di bulan November! Jantan, Na!” teriak Emak antusias. Emak bilang tidak bunting, kok bisa beranak?” protesku setelah sadar. Emakku hanya menjawab singkat, “Kami mengerjai mu , Na!” katanya enteng.
Astaga!
Coba lihat kelakuan Emakku, dia mengerjai anaknya dan puas. Namun ku biarkan dia berpikir bahwa dia menang dalam hal menegrjaiku dan semakin hari, semakin membuktikan keberhasilannya menjawab tantanganku dalam mendidik dan merawat kambing jantan itu.
Hampir setiap hari aku mendengarkan laporan mereka dalam mengurus bayi kambing jantan itu. Dari ruang dengar teleponlah aku tahu bagaimana kambing itu tumbuh sangat pintar dan penuh emosi. Emakku bilang, berbeda dengan saudarinya yang lain, kambing jantan yang satu itu, tidak susah mengurusnya. Saat mendengar suara Emakku memanggilnya, “Janggut” saja, ia langsung pulang dari tempat merumputnya (maklum di dusun Batu Malau, hewan ternak masih bebas berkeliaran di sepanjang semak untuk mencari makan). Atau kata Emakku, jika tidak di cari, maka ia akan pulang sendiri, sekitar pukul 4.30 sore, dan akan memanggil-manggil alias mengembek di depan pintu rumah, atau sengaja berkeliling pekarangan rumah untuk di tuntun masuk ke dalam kandang dan menutup pintunya. Jika terlambat, atau belum sempat mengurusnya, si janggut ini akan merajuk dan akan pulang sebelum tengah malam, atau sekitar jam 10 malam.
Aku sering kali tertawa dan terhibur saat mendengar cerita dari Emakku. Meski jarang bertemu, tapi aku cukup tahu diary kambing jantan ku itu. Mengetahui seluk beluk hidupnya adalah hal unik di mataku, menggembirakan mengetahui bagaimana ia masih menjadi seekor bayi kambing yang lucu, lincah, melompat-lompat girang, tidak pernah mencret, dan bagaimana mana tanduk dan janggut nya mulai bertunas dan tumbuh, bagaimana orang-orang tergiur untuk membelinya dengan tujuan yang sama (untuk aqiqahan) hingga sekarang tanduk dan janggutnya sudah berkarat karena usianya yang sudah tua. Akupun tak mampu lagi tertawa.
Di awal- awal pertumbuhan bulu kuduk, tanduk, dan janggutnya yang masih bisa dilihat sebagai sesuatu yang mempesona itu, Emak masih berteriak saat menelponku bahwa si kambing itu memenuhi semua persyaratan untuk di jadikan Aqiqahan. Emak bilang sudah banyak orang yang datang untuk meminangnya dengan harga tinggi. Tapi dengan alasan yang tidak pernah dijelaskan, kedua orang tuaku tentu saja menolak pinangan-pinangan tersebut. Aku pernah berbicara pada mereka agar acara Aqiqahan itu segera di laksanakan tanpa menunggu momen “sebelum pernikahanku”. Tapi Emak tidak bisa di goda, ia menolak mentah-mentah. Aku sedikit bisa mengendus alasannya, ia pasti tidak ingin para wartawan illegal  nan brutal di kampungku kembali riuh dan membuat berita tentang ku dengan judul, “Sudah Tua! Bukannya Gelar Acara Pernikahan, Malah Aqiqahan?!” dengan emoticon kambing menangis di ujung judul beritanya.
Aku merasa iba pada Emak dan Ayahku, dan merasa bersalah pada Kambing jantanku, si janggut. Bagaimana bisa aku menang mengerjai orang tuaku begitu lama? Bagaimana aku membuat terlantar hidup si janggut hanya demi menungguku.
“Waduh…! Emak nya, Na?! Nunggu apa lagi tu yang bertanduk panjang itu? Gak di jual? Kasihan sudah tua begitu! Untuk koleksi ya? Nanti keburu di jemput maling loh?! Akhir-akhir ini lagi banyak yang kehilangan kambing”  salah satu wartawan melaksanakan tugasnya di suatu pagi.
Ya begitulah, komentar pedas pun tak luput di alami oleh Emakku yang tak bersalah dan si Janggut, yang tak tahu apa-apa itu. Demikianlah skandal kami; aku dan Si Janggut, kambing jantanku, yang 5 November 2017 kemarin, judul berita tentang kami seharusnya begini,
Perawan 30 Tahun vs Kambing Jantan Membujang 4 tahun.
Isi beritanya adalah sebuah pesan dari Kambing jantan:
Bagi para wartawan illegal yang ku hormati dimanapun berada. Aku ingin berpesan, bahwa, jangan terlalu bergembira karena telah menghabiskan waktu memikirkan orang lain, kambing orang lain, ayam orang lain, apalagi sampai mengurusi hewan melata. Jangan merasa lega karena mampu berbisik tentang orang lain, anak orang lain, ibu, mertua, menantu orang lain. Apalagi sampai terbirit menggali aib, kekurangan dan menelan makanan tak mengenyangkan lainnya.
Jangan merasa menang hanya karena mereka malas untuk membalas dan melakukan hal yang sama.
Kenapa? karena kelemahan dari seseoragng atau seekor binatang, bukan hanya satu atau dua, yang tidak kalian ketahui itu banyak sekali, berlipat ganda. Maka, sebagai seekor binatang yang merasa prihatin, aku ingin bertanya, “Berapa banyak waktukah yang akan kalian sia-sia kan untuk mengurusi orang lain termasuk hewan ternaknya, di kehidupan yang singkat ini?
Tak dijawabpun taka pa-apa.
Terima kasih, aku si janggut, seekor kambing jantan yang setia.
---SELESAI---

 penulis: Susri Yunita

Selasa, 09 Januari 2018

Paman Berkaki Panjang---cerpen

Paman Berkaki Panjang
oleh
Susri Yunita


Hasil gambar untuk gambar seorang lelaki pakai payung
aiharabettychan.wordpress.com
      Ini sudah lama sekali semenjak kami bertemu 6 tahun lalu, di awal November tahun 2011. Sejak hari itu, aku selalu memikirkannya, padahal aku sendiri tahu bahwa pertemuan itu sangatlah singkat. Pertemuan yang tidak umum, pertemuan yang membuatku berpikir bahwa hari itu mungkin hari terakhirku menjadi penduduk dunia dan berakhir di dalam ruang pengap dan sempit itu. Pertemuan kami memang tak seindah sinetron dengan adegan bertabrak bahu di depan pintu sebuah bangunan, bertubrukan di anak tangga perpustakaan dengan buku-buku yang berserak, lalu terjadi adegan saling pandang dan tatap saat tangan masing-masing kedapatan memegang buku yang sama. Tokoh wanita tersenyum malu dengan adegan tersebut, terharu, lalu memberi hadiah kedipan lambat dengan rambut tertiup angin. Si tokoh lelakipun terpukau, terpesona, berlanjut pada perkenalan, cinta lalu bahagia selamanya. 
      Tidak!
      Pertemuan kami tidaklah sedrama itu, kami hanyalah sekumpulan korban dari sebuah tragedi lift  rumah sakit yang tiba-tiba mengurung kami selama 15 menit. Peristiwa menegangkan itu tentu dibiangi oleh PLN yang tiba-tiba mati. Bagaimana tidak menegangkan, terkurung di tempat seperti itu bisa berakibat fatal sekali. Terlebih mengingat hanya ada tiga orang di dalam sana yang bisa di ajak untuk mati bersama. 
      Benar, hanya ada tiga orang yang terperangkap di dalam lift itu. Dua orang diantaranya adalah manusia tak berdaya, yaitu Aku dan Ge, sementara satu lainnya adalah seorang pria bertubuh tinggi, dengan penampilan bersih dan rapi serta terlihat sangat sehat dan bugar sekali. Namun percuma, kebugaran dan tubuh yang tinggi saja rupanya tetap tidak mampu membuka sebuah lift. Padahal aku sudah bersusah payah berhayal dengan tubuh yang memenuhi syarat itu, tapi percuma, dia tetap tidak mampu membawa kami keluar melalui kawat lift, dia juga tidak mampu membongkar plafon lift seperti Bruce Willis di film Die Hard.  
      Menegangkan sekali, kami bertiga terjebak di lantai 3 setelah naik dari lantai 1. Dan sialnya, sekuat apapun lelaki tinggi itu menggedor pintu lift waktu itu, tetap  saja tidak ada yang mendengar, karena barangkali disekitar lift tidak begitu ramai orang yang berhilir-mudik. 
      Ge, si bocah laki-laki berumur 4,5 tahun yang ikut bersamaku mulai menyadari sesuatu yang buruk sedang terjadi, ia mulai merengek dan menangis ketakutan. Hari itu aku sampai kehilangan akal membujuk keponakanku itu. Bagaimana tidak, aku sendiri pun sangat panik luar biasa. Itu adalah kali pertama dalam hidupku menggunakan lift, kali pertama selama 6 bulan aku bekerja sebagai salah seorang ahli gizi di rumah sakit itu. Sebelumnya, aku lebih memilih melompati anak-anak tangga manual daripada menggunakan lift. Tapi karena sedang terburu-buru mengantarkan Ge, yang ibunya sedang di operasi di sana, maka lift adalah pilihan yang terpaksa memberiku sebuah pengalaman yang bercampur baur. 
      Setelah mengupayakan bantuan dan menghubungi pihak keamanan, lelaki tinggi itu  meminta kami berdua untuk tetap tenang dan jangan panik. Bocah kecil seperti Ge mana mengerti dengan perintah seperti itu, ia tak peduli dan terus menangis sambil memanggil-manggil Bundanya. 
      Entahlah karena merasa risih atau apa, namun si lelaki tinggi lalu mengambil alih Ge dariku. Ia berjongkok lalu berbicara sambil memegang tangan bocah itu. alhasil, dua orang lelaki tersebut kemudian duduk di satu sudut lift.
      “Jangan takut, kawan! Kau tidak sendirian, coba lihat, di sini ada om, dan mama mu juga” katanya. Kepanikanku seketika redam dan beralih emosi mendengar kata “Mamamu” dari mulutnya. Namun apa daya, asal kan Ge bisa ditenangkan dan tak menambah resah-rusuh-gelisah dan gundah hati. Biarlah.
       Entahlah saat itu aku sedang mendo’akan kakak ku yang sedang operasi atau mencemaskan nasib kami sendiri yang sedang disekap lift saat Ge berkata seperti ini, “Apa Paman ini orang hebat?” Tanya Ge polos pada lelaki itu. si Paman agak terkejut dengan pertanyaan Ge. 
      “Em? Oh ya, iya tentu saja Paman ini orang hebat” katanya kemudian dengan sombong sekali. 
      “Kalau begitu, cepat buka pintunya” lanjut Ge lagi masih tersedu-sedu sembari menarik ingusnya yang bening.
      “Ai.. anak laki-laki seperti kita, tidak boleh punya ingus, kawan” katanya, aku sempat tertawa kecil di balik rambutku yang terurai. Si Paman tinggi lalu mengeluarkan sapu tangan dari saku nya dan membantu Ge mengatasi cairan di hidungnya. 
      “Jadi Paman ini bisa kan buka pintunya?” dengan wajah yang masih murung dan mata berlinang, si bocah masih gigih bertanya. 
      “Emmm, baik! Tapi janji kau berhenti menangis, ya? Kau tahu? Orang menangis itu lama-lama bisa terkentut” katanya. Ge sedikit mulai menyengir dan terhibur. “Kalau ada orang yang terkentut di ruangan seperti ini, maka pintunya sulit untuk terbuka karena orang-orang di dalamnya bisa keracunan oleh gas kentut” sambungnya lagi sembari mengalihkan ketakutan Ge. Berhasil, si bocah sementara memang berhenti menangis, namun kemudian kembali bertanya,
      “Paman, kapan pintunya terbuka?” 
      “Sebentar lagi, sebentar lagi” 
      “Paman, ayo buka. Adek mau eek” kata Ge mengejutkan. Bukan hanya si Paman itu yang terkejut, namun tentu saja aku. Bagaimana bisa di ruang pengap dan darurat seperti itu Ge akan buang hajat? Wah, sungguh tingkat stress yang luar biasa. Si Paman tinggi yang mulanya terlihat tenang dan sehat itupun mulai terlihat panik dan tegang. 
      “Mbak nya ada ponsel?” ia bertanya, aku menggeleng, karena memang ponsel bahkan tasku ada di loker di ruang dapur tempat ku bekerja. Si Paman tinggi itupun sepertinya begitu, memiliki situasi yang sama denganku, meninggalkan ponsel di suatu tempat.
       Ia pun kembali berdiri dari tempat duduknya di sudut lift bersama Ge. Dalam situasi darurat itu, Ge tetap saja mengekor pada orang itu tanpa menganggapku juga ada di sana. Ia sambil memegang tangan bocah itu langsung memencet kembali tombol emergency call di panel untuk kesekian kalinya. Untung lah lampu panel otomatis itu masih menyala dan setelah sekian lama bisa tersambung juga ke bagian security. Ia lalu memberi tahu kondisi dan posisi dimana kami sedang terjebak saat itu. 
      Kami merasa agak lega sebentar, namun kabar baik itu dilunturkan oleh keadaan pencernaan Ge yang bertambah darurat. Bocah itu terus meringis. Aku dan si Paman tinggi terus memberi semangat pada Ge untuk tetap bertahan, suasana seperti itu setegang adegan seseorang yang akan melahirkan bayi kembar empat dengan proses normal. Jika pada kasus melahirkan berusaha untuk membuat bayinya keluar, maka pada kasus kami adalah berusaha sekuat tenaga  untuk mendorong benda lembek dari dalam perut Ge untuk tetap berada di dalam. Semua perasaan bercampur aduk, sementara di luar lift barulah terdengar para teknisi sedang berusaha membuka pintu lift dengan paksa, namun tidak semudah itu pintu lift akan terbuka dengan peralatan yang seadanya. Semakin kacau, Ge kembali menangis. Si Paman kembali membujuknya, kali itu menggendong si bocah, ia sepertinya khawatir Ge bisa-bisa kehabisan nafas karena menangis apalagi sampai buang hajat di ruangan pengap itu. Keadaan pasti lebih darurat dari yang dibayangkan. Sementara menggendong Ge, ia memintaku untuk duduk tenang, dan tetap menghemat oksigen yang ku miliki. 
      “Jangan terlalu khawatir” katanya saat Ge kembali memekik.
      “Eh, kawan! Coba lihat di atas sana, sepertinya ada ibu anai-anai” serunya, dan sontak tangis Ge berhenti sesaat ketika ia menengadahkan kepalanya mencari-cari si ibu anai-anai yang sebenarnya tidak ada.
      “O, rupanya bukan anai-anai, tadi Paman salah lihat. Oya, kau sudah pernah mendengar cerita tentang anai-anai, belum?” si paman kembali mengalihkan pikiran Geo. Si bocah perlahan tenang kembali  dan akhirnya menggeleng. 
      Sambil menggendong si bocah, ia menggambarkan seperti apa anai-anai itu, lalu terus bercerita tentang keluarga anai-anai yang terjebak hujan. Di ceritakan bahwa suatu hari Ibu anai-anai sedang demam di dalam sarangnya, sementara Ayah anai-anai sedang keluar ke Toko Obat Hutan untuk istrinya dan mencari makan untuk anak mereka yang belum bersayap. Lalu tiba-tiba hujan badai yang saaangat besar datang dan menghancurkan sarang mereka.
      Deggggghhh…!
      Sarang anai-anai tiba-tiba hancur berkeping-keping. Sang ibu beserta anak-anaknya hanyut dan terlempar ke sungai. Untunglah sang ibu masih berkesempatan untuk menggenggam kepala anak-anaknya agar tidak terpisah darinya dan hanyut terbawa arus. Setelah sekian jam hanyut dan di hempas gelombang air, sang ibu berhasil melemparkan anak nya ke arah air yang cukup tenang, sementara ia sendiri hanyut secepat kilat terbawa buih-buih kuning hingga tertelan bersama badai. 
      Dengan penuh kesedihan, mereka terus berdoa dan berkayuh menuju seuntai akar yang menggelantung di sungai. Tak lama kemudian, dengan do’a mereka yang tulus, Tuhan berikan pertolongan dan mengirimkan kelopak jantung pisang untuk di jadikan kapal, maka setelah badai usai, mereka pun berlayar ke hilir, berusaha untuk mencari ibu mereka. Setelah 15 menit berlayar, mereka bertemu dengan sang ibu yang sudah sangat lemah, namun mereka sangat bersyukur karena sang ibu masih hidup. Maka sejak peristiwa mengerikan itu terjadi, di setiap ada kesulitan, anak anai-anai tidak lupa berdoa dan berusaha, mereka akhirnya hidup dengan kuat bahagia. 

      Sampai disitu ceritapun selesai dan, Ting! Lampu menyala, dan lift pun terbuka dengan sendirinya. Ge pun merasa tidak ada yang salah lagi dengan perutnya. Ususnya dan perangkat pencernaan lainnya pun baik-baik saja. 
      Begitu lift terbuka, si Paman tinggi langsung mengucapkan terima kasih pada para teknisi yang telah berusaha membantu walau belum berhasil.
      “Mas, Man, Eko, Dudi! Makasih, bro” katanya setelah pintu benar-benar terbuka dengan sempurna.
       “Bagaimana? Perutmu tidak marah lagi kan, kawan?” ia menggoda Ge begitu sampai di luar lift sembari melepaskan bocah itu dari gendongannya. Tanpa berkesempatan ucapkan terima kasih, si Paman tinggi tersebut langsung berlalu dengan sangat terburu-buru setelah ia melirik jarum jam di tangannya. 
      Walau sempat tertunda, namun akhirnya Ge buang hajat juga pada hari itu. Ini bukan lucu, dan jika ada hal yang sulit dikatakan di dunia ini, maka inilah salah satunya, bahwa sungguh ketika itu, di hari yang sama bocah itu benar-benar buang air setelah mengetahui ibunya meninggal dunia. Benar, hari itu Ge kehilangan ibunya. Mungkin Ge belum paham betul arti dari seseorang yang meninggal atau apa itu mati, namun yang jelas sedikit banyaknya ia paham bahwa sesuatu yang buruk dan menyedihkan sedang terjadi saat ibunya berhenti berbicara dan semua orang disekeliling meratapinya.   
      Di pemakaman, bocah itu berdo’a agar Tuhan yang baik, mengirimnya kelopak jantung pisang. Katanya ia akan berlayar dan menemui ibunya setiap hari Minggu saat ia libur sekolah dengan kelopak jantung pisang itu. Aku tidak menyangka, Ge kehilangan Ibunya, saat bayi anai-anai itu juga kehilangan ibu mereka yang hanyut. Dan beruntung mereka, karena sang Ibu kembali pada mereka. Namun tak begitu dengan Ge, ia kehilangan ibunya saat operasi bypass jantung sedang berlangsung dan nahasnya, listrik rumah sakit padam.  Pergantian ke genset selama kurang lebih 10 detik waktu itu berakibat fatal pada nya. Akhirnya ibu Ge tak terselamatkan bersama 2 orang pasien lain yang sedang menjalankan operasi, serta satu bayi yang diinkubator, dan tiga pasien kritis yang bergantung pada ventilator
      Seminnggu setelah hari itu, semua anggota di keluarga ku di buat bingung oleh Ge yang mencari “Paman berkaki panjang” di dalam lift. Ia sampai demam dan mengigau setiap malam. Katanya, ingin bertemu paman hebat waktu itu, orang yang bisa membantunya bertemu bundanya yang telah meninggal. Bocah itu sulit sekali di bujuk bahkan oleh Ayah nya sendiri, ia juga tidak mau makan sama sekali. Semua orang bingung, namun aku mengerti apa perasaan Ge dan siapa yang ia cari hingga akhirnya aku terpaksa bertanya pada petugas security yang berusaha memberi bantuan saat kejadian di dalam lift waktu itu. 
      Mas Man, adalah orang pertama yang ku temui, karena kelihatannya, si Paman Berkaki Panjangnya si Ge cukup popular di lingkungan security, terutama dengan mas Man itu.
      Berhasil, aku pun mendapat informasi pertama. Namanya adalah Gean, tepatnya, dr. Gean Mahendra, seorang specialis bedah. Aku sempat tak percaya, rupanya ia seorang dokter. Awalnya sempat ragu dan tak percaya diri. Seorang dokter pastilah sangat sibuk, pikirku. Aku tak memiliki keberanian memintanya melakukan hal seperti itu bahkan hanya sekedar menemui saja mungkin aku tidak bisa. Namun, melalui beberapa proses dan pemikiran yang panjang, aku akhirnya berhasil mempertemukan Ge dengannya. Sekitar 7 atau 10 menit, ia mengajak Ge berkeliling dan menghiburnya, entah apa yang mereka bicarakan di bangku taman rumah sakit kala itu atau lebih tepatnya entah bagaimana cara orang itu membujuk bocah itu, hingga ia bisa tersenyum dan tak bertanya lagi kemana ibunya di hari selanjutnya dan tak pernah rewel untuk makan. 
      Hari itu, aku merasa bak seorang asisten sedang menunggu atasannya yang sedang rapat dan mengadakan semacam pertemuan penting dengan seorang dokter specialis. Luar biasa, saat Ge menyudahi pertemuannya dan berjalan menuju ke arahku, jantungku dengan tak tahu dirinya bekerja sangat gaduh dan memalukan. Tentu saja bukan Ge penyebabnya, tapi seseorang yang ada di samping bocah itu, ia yang sedang melengangkankan tangan si bocah sambil melangkah dengan wajah cerah. 
      “Terima kasih, dokter?” Ucapku dengan sangat bersyukur begitu dua lelaki tersebut tiba dihadapanku.
     “Tidak apa-apa. O ya, maaf, waktu itu ku pikir Ge adalah anakmu” ujarnya. Aku balas tersenyum.
     “Bekerja di sini juga?” Ia bertanya sambil tersenyum. Aku mengangguk sebagai jawaban.                    “Dibagian apa?” 
      “Dapur” jawabku kemudian. Ia sedikit berpikir.
      “O, ahli gizi?
     “Iya, dok” jawabku sedikit. “Maaf telah mengganggu waktunya, dan sekali lagi terima kasih untuk semuanya.” Lanjutku berulang kali. 
      “Tidak apa-apa, aku jadi punya teman kan sekarang?!” katanya sembari mengacak rambut Ge.           “Aku juga turut berduka atas Ibu Ge” ucapnya kemudian dengan pelan sambil menatap si bocah lelaki. 
      Begitulah pembicaraan kami terakhir pada hari itu. Sebelum akhirnya berlalu, ia berjongkok pada teman nya, si Ge sambil berkata, “Temanku! Bilang pada bibimu kalau semua pasienku mengutuk masakannya yang hambar” katanya, ia menatapku sekilas dan berlalu seenaknya meninggalkan kami berdua yang kebingungan dengan hinaan itu. 
      Sejak pertemuan itu, Ge mengatakan bahwa ia akan menjadi dokter seperti Paman Berkaki Panjang miliknya itu. Iya, Ge mengatakan bahwa Paman Berkaki Panjang itu miliknya dan berharap akan sering bermain dengan nya lagi.  
      Harapan Ge itu hampir tidak menjadi kenyataan, karena tak lama setelah kepergian ibunya, bocah itu bersama sang Ayah harus  pindah ke Malaysia. Abang ipar ku itu, kebetulan memulai sebuah bisnis serta melanjutkan pendidikannya di sana, dan Ge diasuh oleh Nenek dari Ayahnya itu yang memang sudah tinggal di sana. Dan permintaan ngotot dan nyolot si, Ge sebelum terbang ke Malaysia adalah bertemu dengan temannya, si Paman Berkaki Panjang itu. Demi menyayangi dan mengasihi bocah itu, aku sebagai bibi nya selalu dituntut dan didesak oleh seluruh anggota keluarga agar segera mempertemukan dua sahabat itu. 
      Akhirnya, dengan modal muka yang tebal, aku kembali mendatanginya, dan mengemis di hadapannya, untuk meluagkan sedikit saja waktu bagi keponakanku itu. 
      “Ada yang ingin diberikannya pada dokter” rayu ku. “Jadi, please?! Tolong lah aku sekali ini saja dok, terakhir!” ucapku menyakinkan. 
      “O ya?” sambutnya dengan senyuman. “Tak perlu begitu, aku juga punya sesuatu yang akan diberikan pada temanku itu, sesuatu yang telah ku pikirkan sejak hari itu” ucapnya, entah sejak hari itu yang mana yang ia maksud, tapi yang jelas aku hampir berjingkrak di depan dokter berwibawa itu kalau saja ponsel ku tidak tiba-tiba berdering. 
      Abang Ell, kakak iparku yang menelpon. Dan aku langsung mengatakan bahwa dia bisa datang bersama Ge siang itu, karena si dokter sepakat saat jam makan siang hari itu mereka bisa bertemu. Selebinya, urusan pertemuan antara putranya dengan dokter ahli bedah itu kuserahkan pada Bang Ell. Dan sepertinya semua urusan hari itu berjalan sempurna. 
      Ge terlihat sangat bergairah  namun karena kesibukan ku kala itu, aku belum sempat mewawancarai keponakan ku itu tentang seluk beluk pertemuannya yang membuatku iri dengan si Paman Berkaki Panjang, hingga dua hari kemudian bocah itu pindah ke Malaysia bersama Ayahnya. 
      Sialnya adalah, hanya sekali! Hanya sekali aku kebetulan bertemu dengannya walau sesering apapun juga aku berlalu lalang di rumah sakit, itu pun tidak sempat mengobrol. Hanya bertemu diantara tumpukan orang-orang. Hal itu membuatku agak kesal, sepertinya cara Ge merepotkanku mulai ku rindukan akhir-akhir itu, namun sayang, tak ada lagi Ge, tak ada lagi juga bisnis.
      Benar-benar tidak ada. Nihil! Aku bahkan sempat ragu, apakah setelah hari-hari itu dia pernah mengingat wajahku atau tidak? Atau paling tidak tahu namaku saja. Begitulah aku melantur, walau seorang ahli gizi, tapi otak tetap seperti kurang nutrisi, selalu saja ngawur ngelantur meski telah dimarahi berulang kali. Saat orang lain mengobrol denganku, di kepalaku hanya ada si Paman Berkaki Panjang. Kegilaanku semakin menjadi-jadi saat mengetahui suatu hari ia tiba-tiba keluar dari pekerjaan dan menutup kesempatan untuk kami bertemu lagi, apalagi terjebak di dalam lift seperti hari itu. 
      Dalam beberapa pekan, aku merasa sangat lesu bak kucing sakit perut, namun rupanya kemampuanku dalam menetralisir keanehan perasaan masih berfungsi walau sedikit lamban dan pelan. Akhirnya, dengan pekerjaan, dengan membaca buku, dan  mencoba resep-resep baru semakin hari pikiran tentang Paman Berkaki Panjang pun kian sayup, mengecil  dan jauh. Bahkan sesaat waktu bisa lupa walau tetap saja sebuah file dengan nama si Paman Berkaki Panjang yang terpampang di lubuk yang tak tampak itu tak dipungkiri keberadaannya. Kepengecutanku untuk memungkiri kenyataan itulah yang membuatku menganut paham menunggu. Menurutku, menunggu adalah satu-satunya hal berharga yang bisa ku lakukan untuk seseorang yang membuat gaduh jantungku. Modalku hanya satu dan dua, yaitu kekonyolan dan kelakuan bodoh. 
      Menggunakan kata “menunggu” untuk orang yang tidak mengenal kita, bukankah bunuh diri yang nyata namanya? Bukan kah itu bodoh tingkat paling bawah sebutannya? Bukankah Rasa tak tak tahu malu kelas kecoak busuk judulnya? 
      Saat ini, Ge berumur 10 tahun, kelas 4 Sekolah Dasar. Dua bulan lalu, ia bersama Ayah dan Nenek nya pulang dari Malaysia. Ayah Ge belum menikah semenjak ditinggal pergi kakakku, dan maksud kedatangan mereka kali itu selain urusan bisnis abang iparku itu, adalah membicarakan sebuah pernikahan yang akan terjadi di di keluarga kami. Abang Ell membawa desas-desus tentang lamaran dari negeri Negeri seberang itu. Memang belum sampai pada telingaku langsung, namun  seluruh keluarga seperti telah menyepakati hal itu. 
      Dubbb! 
      Jantungku rasanya mau putus entah pecah tepatnya. Aku tidak berkonsentrasi sama sekali, semua anggota keluarga terasa tidak menyenangkan untuk di ajak bicara. Mereka selalu mengkonfrontasiku, bertanya ini itu. 
      Ge lah manusia yang bisa ku ajak berbincang. Aku mengajaknya mengobrol di dalam kamarku dan mengunci pintu. Waktu itu ia bercerita banyak tentang teman-temannya di Malaysia, tentu saja dengan logat melayu yang kental dan perpaduan Bahasa Inggris yang membuatnya terdengar menarik hingga mampu memberiku sedikit penghiburan. Aku bertanya apakah ia masih ingat tentang ”Paman Berkaki Panjang” waktu itu, jawaban Ge mengejutkan, selain masih ingat, ia juga berkata bahwa ia sempat bertemu beberapa kali dengan lelaki itu di Malaysia, bahkan ia sempat menginap di rumah mereka. 
      Bukan main, mataku terbelalak seperti hantu tercekik lidi sate bang Bokir. Belum lagi saat Ge member sebuah kalung yang ia simpan di kamarku dalam sebuah celengan kucing sebelum ia pindah ke Malaysia beberapa tahun lalu. 
      “Ini kan kalung hadiah ulang tahun dari Auntie, sudah lama betul ini, saat bunda belum pergi malah, kau masih ingat ya?” tanyaku.
      
      “Ya, but, Antie, you have to look apa yang ada di dalam liontin ini” jelas Ge. Aku mengerutkan kening dan terheran, lalu membuka paksa liontin yang pinggirnya sudah mulai berkarat itu. Tak berhasil, karena aku tidak memiliki kuku yang panjang, jadi ku cari-carilah sesuatu yang runcing untuk membukanya. Sembari mencari-cari peniti atau jarum pentul untuk mencongkelnya, Ge terus berbicara. 
      “I forget sangat Aunt Di, bahwa uncle Gean pernah titipkan small gift kat kantung kalung I ni untuk aunt D waktu tu. 
      “Apa?” kataku meninggalkan laci lemari yang tengah ku obrak-abrik, ku alihkan badan, hati dan pikiranku sepenuhnya pada Ge. 
      “Hei, Nak! apa katamu barusan ini? Coba ulangi lagi?” serbu ku tak sabar sambil meraup wajah keponakan ku itu dengan kedua telapak tanganku. Ge malah nyengir tak berperasaan, lalu bilang 
      “Hehe…I’m sory Auntie Di?!” katanya memelas, dan dengan sigap mengusir tangan ku di wajahnya dan dengan antusias sekali balik memegang sisi bahuku dan berseru
      “Do you know? Uncle Gean and Ayah adalah friend lama and I tahu mase I jumpe die before we had gone to Malay waktu tu. And two mounts ago, Uncle Gean mampir ke rumah, ia tanya-tanya Uanty.
      “Nanyain Antie?!” kataku lemas dan kehilangan nafas. 
      “Emm” Ge mengangguk khusyuk. 
      “Cepat-cepat, ambil pisau dapur!” perintahku pada Ge. Secepat kilat si bocah berlari ke dapur dan menyodoirkan pisau paling runcing yang ada di dapur. Aku masih termangu tak percaya hingga Ge menyadarkanku.
      Syukurlah, tak butuh waktu lama, beberapa detik kemudian, benda pusaka itu berhasil di buka. Selain ada foto mendiang Kakak ku, kak meta juga ada Foto Bang Ell di sisi yang lain. Aku ingat saat membelikan kalung itu untuk Ge waktu itu, si bocah menangis saat ikut denganku berbelanja di pasar tradisional karena menginginkan benda itu yang bergelantungan di area pedagang pernak-pernik di kaki lima. Karena bertepatan dengan ulang tahunnya, jadi ku jadikan benda itu sebagai hadiah ulang tahun untuknya.
      “Ada aunt?” Ge mengejutkanku. Aku mengangguk. Badanku panas dingin saat akan membuka sejumput kertas yang dilipas hingga sebesar beras itu. 
      “Uncle Gean terus bertanya waktu ia mampir at that time, apa Aunti sudah buka and bace message yang ia tulis di dalam kantung kalung” Ucap Ge terus berceloteh sembari meminta maaf dengan wajah yang sangat menyesal. 
      Berhasil. 
      Lipatan yang mendebarkan itu terbuka dengan kusut. Begitu membaca  tulisan tangan yang ada di kertas kecil itu, aku kehilangan kehebatan yang selalu ku banggakan, yaitu memaksa agar air mataku jatuh kedalam, tak kuasa, pipiku basah tak berdaya. 

SELESAI